Medan, hetanews.com - Belasan orang mengatasnamakan Kumpulan Anak Perantau Asahan (KAPAS), menggelar aksi di depan Mako Polda Sumatera Utara, Rabu (7/2/2018).

Dalam aksinya, mereka menyoroti dugaan adanya tangkap lepas kasus narkoba, di Polres Asahan.

Koordinator aksi, Arigusti Syahputra mengatakan, diduga banyak oknum penegak hukum yang menjadikan ajang pemberantasan narkoba, menjadi lahan untuk memperkaya diri, khususnya di Polres Asahan.

Dimana, banyak kurir maupun bandar narkoba yang sudah ditangkap dengan barang bukti narkoba, dibebaskan kembali dengan dalih rehabilitasi.

"Padahal jelas, didalam undang-undang, MoU antara Kepolisian, BNN, Kejaksaaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan Kemenkumham, bahwa yang boleh dilakukan rehabilitasi adalah pengguna, bukan kurir atau bandar narkoba. Itupun, proses rehabilitasi harus melalui rekomendasi Tim Asesment Terpadu (TAT) yang melibatkan jaksa, BNN dan Kepolisian," katanya.

Dari hasil analisa dan data yang dikumpulkan, katanya, proses rehabilitasi yang dilakukan Polres Asahan, banyak menyalahi prosedur, tanpa adanya rekomendasi dari TAT.

Massa Kumpulan Anak Perantau Asahan (KAPAS) saat menggelar aksi di depan Mako Polda Sumatera Utara,
Rabu (7/2/2018). (foto/ardiansyah)

"Ada beberapa bandar narkoba yang ditangkap diduga dibebaskan kembali dengan dalih rehabilitasi. Inilah yang akan kami pertanyakan dan sampaikan kepada Bapak Kapolda Sumut," ungkapnya.

Ia mempertanyakan tentang pemusnahan barang bukti narkoba sebanyak 1,2 kg di Mapolsek Simpang Empat, pada Oktober 2017 lalu yang dipimpin langsung Kapolres Asahan, AKBP Kobul Syahrin Ritonga.

Dimana, diduga barang bukti sabu yang dimusnahkan palsu. Karena sebelum dimusnahkan tidak diuji oleh Laboratorium Forensik Cabang Medan dilokasi pemusnahan.

"Kasus pemusnahan barang bukti ini pun sudah didalami Bid Propam Polda Sumut. Sampai bulan Desember 2017 lalu hingga sekarang prosesnya belum jelas dengan alasan masih dalam tahap pemeriksaan dan penyelidikan," ucapnya.

Selan itu, Samsul alias Kecubung, bandar narkoba yang ditangkap, pada 20 November 2017 dengan barang bukti yang didapatkan di rumahnya sebanyak dua paket besar sabu sekitar 4 gram dan alat hisap.

Saat ditangkap oleh petugas Sat Narkoba Polres Asahan, disaksikan prajurit Koramil Kota Kisaran, Lurah Tebing Kisaran, Lurah Kisaran Naga dan aktivis Anti Narkoba. "Namun yang bersangkutan dibebaskan dengan dalih rehabilitasi," cetusnya.

Tak hanya itu, katanya, penangkapan Wijaya dengan barang bukti 12 gram sabu, yang hingga kini  proses hukumnya tidak jelas.

"Ucok yang merupakan bandar narkoba di Bagan Asahan yang ditangkap sekitar bulan Desember. Ditangkap petugas Sat Narkoba Polres Asahan, namun dibebaskan kembali dengan alasan situasi kamtibmas yang tidak kondusif, hingga saat ini masih berkeliaran dan menjalankan bisnis narkoba," jelasnya.

Massa Kumpulan Anak Perantau Asahan (KAPAS) saat menggelar aksi di depan Mako Polda Sumatera Utara,
Rabu (7/2/2018). (foto/ardiansyah)

Razia di Salon Neta, pada 30 Desember. Dimana, 13 orang diamankan dengan barang bukti beberapa butir ekstasi, 2 orang ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan 11 orang dibebaskan dengan alasan rehabilitasi. Padahal keseluruhan pelaku ditangkap saat menggelar pesta narkoba di sebuah rom karoke.

"Jelas dalam UU Narkoba Nomor 35 Tahun 2009, ada pasal yang bisa menjerat 11 pelaku yang dibebaskan. Kuat dugaan kami, ada permainan dalam proses pemberantasan narkoba," tambahnya.

Untuk itu, massa meminta Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpau, memeriksa Kapolres Asahan, AKBP Kobul Syahrin Ritonga, apakah terlibat dalam kasus ini.

"Bila terbukti maka copot Kapolres Asahan dari jabatannya, dan bersihkan oknum petugas yang terlibat," pungkasnya.