HETANEWS

BBPOM Medan Kembali Paparkan Penemuan Mie Formalin di Siantar-Simalungun

BBPOM Medan paparkan hasil penyitaan mie kuning berformalin dan bercampur boraks dari tempat berbeda di wilayah Siantar-Simalungun, Sabtu (3/1/2018). (foto/hug)

Siantar, hetanews.com - Produksi mie berformalin kembali terungkap setelah Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Medan melakukan pengembangan terkait jaringan  kejahatan makanan itu.

Aktor intelektual di balik mie berformalin ini masih terus dikejar. Sementara itu, wilayah Siantar- Simalungun diakui sebagai peredaraan produksi mie berformalin terbesar.

Kali ini BBPOM Medan kembali melakukan penyitaan mie berformalin dan boraks di beberap tempat yang berbeda. Selain tersangka pengusaha produksi mie, sejumlah barang bukti seperti mie kuning dan mesin produksi ikut disita.  

Adapun tempat produksi mie berformalin antara lain di Dusun Karang Sari Kabupaten Simalungun diamankan mie kuning seberat 1.005 kg, formalin 10 liter, boraks 2 kg, mesin produksi 3 unit dan timbangan 2 unit.

Di Pasar Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun diamankan mie kuning seberat 33 kg, wadah formalin 2 buah, mesin produksi 2 unit.

Sementara di Kota Siantar diamankan mie kuning seberat 175 kg, air rebusan 1 liter, centong formalin dan 1 buah mesin produksi.

Terakhir tempat produksi di Jalan Jambu Gang Rambe, Kota Siantar diamankan mie kuning seberat 27 kg, borak 50 gram, air rebusan mie 100 mililiter dan mesin produksi 3 unit.

“Kami prediksi 3 ton per hari peredaran mie berformalin di Siantar-Simalungun. Kita khawatirkan selama 3 tahun kedepan bagaimana nasib orang yang mengkonsumsi mie berformalin ini. Kita akan tindak tegas dan menyatakan  perang terhadap pelaku kejahatan pangan,” tegas Kepala BBPOM Medan, Julius Sacremento Tarigan didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes), Urat Simanjuntak, Sabtu (3/1/2018).

Julios Sacremento menerangkan, pelaku pembuat mie mengandung formalin dan boraks harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Yakni pasal 136 huruf (b) dan pasal 140 Jo.pasal86 ayat (2) Undang-Undang (UU) RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dengan ancaman pidan penjara paling lama 2 tahun dan denda sebesar Rp 4 miliar. Dan Pasal 62 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun atau denda sebesar Rp 4 miliar.

“Ada 4 kasus dari 2 bulan yang lalu sudah diproses secara hukum dan kini sudah tahap Pengadilan. Kasusnya sudah P21. Dan yang kita amankan saat ini akan dalami lagi,” jelas Julios seraya mengatakan, jika pengusaha mie berformalin tidak dapat dibina melainkan harus dihukum.

Adapun yang menjadi persoalan dalam produksi mie berformalin dan boraks ini adalah bocornya peredaraan formalin dan boraks di pasaran. Sehingga para pebisnis atau jaringan dindikat kejahatan pangan dapat memperolehnya dengan mudah dengan jumlah yang cukup besar.

Julios juga menerangkan, dampak formalin atau boraks yang dikonsumsi lewat mie dapat menimbulkan gangguan kesehatan tubuh yang fatal. Setidaknya penikmat mie dapat mengalami jenis penyakit kanker setelah mengkonsumi makananan tersebut dalam waktu yang lama.

Penulis: gee. Editor: aan.