HETANEWS

Polisi Ringkus Sindikat Jambret yang Anggotanya Anak di Bawah Umur

Para pelaku yang diamankan Jatanras Polres Tanjungbalai. (foto/ferry)

Tanjungbalai, hetanews.com - Gejala sosial di kalangan remaja, khususnya anak di bawah umur di Kota Tanjungbalai sudah sangat mengkhawatirkan.

Ini terbukti, Rabu (31/1/2018) sekira pukul 19.00 WIB, Unit Jahtanras Satuan Reskrim Polres Tanjungbalai meringkus sindikat jambret yang anggotanya anak di bawah umur.

Kapolres Tanjungbalai, AKBP Tri Setyadi Artono , melalui Kasat Reskrim, AKP Burju Siahaan membenarkan kejadian tersebut.

“Kita berhasil meringkus satu per satu sindikat jambret yang diotaki seorang pelajar SMK Negeri 2 Tanjungbalai kelas X  berinisial MASD (16) warga Keramat Agis, Tanjungbalai Utara. Dalam aksinya pelaku ini dibantu anggota sindikatnya yang silih berganti,” ujar AKP Burju diamini Kanit Jahtanras, Ipda Syahril Situmorang kepada hetanews.com, beberapa saat usai berhasil meringkus seluruh anggota komplotan jambret tersebut.

Polisi turut mengamankan IM (17) pelajar SMKN 2, MI (15) pelajar SMP Negeri 1 Atap, MHD (16) dan BPA (15) keduanya pelajar SMP Negeri 1, IS (18) dan RN (15) pelajar Al Wasliyah.

MAPD otak pelaku jambret. (foto/ferry)

Modus yang mereka gunakan dengan cara memacari korban. Pelaku pun mengajak korban berkeliling Kota Tanjungbalai.

Setibanya di tempat yang sepi, pelaku memberhentikan sepeda motornya dan mengajak korban bercinta.

Selanjutnya datang pelaku lainnya mengancam korban agar menyerahkan handphone (HP), sambil menodongkan benda tajam.

“Sebelum dirampok, terlebih dahulu pacar korban (yang juga pelaku) telah merencanakan aksi perampokan ini bersama pelaku lainnya. Namun saat terjadi perampokan, seolah-olah pacar korban menjadi korban juga. Padahal pacar korban merupakan jaringan sindikat tersebut," tambah Ipda Syahril.

Sindikat ini juga melakukan aksi jambret di jalan utama di Tanjungbalai. Korban mereka rata-rata adalah kaum wanita yang meletakkan HP nya di jok depan sepeda motor.

Petugas saat menginterograsi para pelaku jambret. (foto/ferry)

Dengan bantuan Satuan Reserse Narkoba, ketujuh pelajar itu dilakukan tes urine dan hasilnya 1 orang dinyatakan positif narkoba.

Kepada petugas, mereka mengakui perbuatannya. Hasil kejahatan tersebut mereka pergunakan untuk bermain game online.

Kini polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait sindikat jambret dan memburu tersangka lainnya yakni penadah barang curian.

Kejadian ini merupakan aksi yang kesekian kalinya dilakukan anak di bawah umur dalam melakukan tindak pidana.

Sayangnya aksi kenakalan para pelajar ini sepertinya tidak mempunyai efek jera. Pasalnya sampai saat ini pelaku  kejahatan yang melibatkan pelajar dan anak di bawah umur belum pernah merasakan dinginnya sel penjara, karena selalu dilakukan mediasi.

Ketujuh pelaku jambret yang diamankan petugas. (foto/ferry)

Akibatnya tindak kejahatan melibatkan anak di bawah umur seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Karena dalam pikiran mereka tiap tertangkap dalam melakukan tindak pidana akan dilepas polisi karena masih anak di baeah umur.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi polisi, Dinas Pendidikan (Disdik) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mencari penyelesaian tindak pidana yang sudah sangat mengkhawatirkan dilakukan anak di bawah umur ini. Pasalnya sampai saat ini kinerja KPAI Kota Tanjungbalai belum menampakkan hasil dalam setiap tindak pidana yang melibatkan anak di bawah umur.

Penulis: ferry. Editor: aan.