HETANEWS.COM

Hakim Ketua Bacakan Putusan Tanpa Laksanakan Musyawarah, Ini Penilaian Pengacara

Hakim Ketua Lisfer Barutu (tengah) didampingi Novarina Manurung dan Mince Ginting, sebagai hakim anggota, di ruang sidang Chandra PN Simalungun, Selasa (30/1/2017). (foto/hug)

Simalungun, hetanews.com - Hakim Ketua Pengadilan Negeri (PN) Simalungun Lisfer Berutu langsung memberikan putusan atas tuntutan jaksa pada persidangan pemalsuan Surat Izin Mengemudi (SIM) oleh 3 orang terdakwa.

Putusan yang diberikan oleh Lisfer tersebut, terlihat tidak melakukan musyawarah terlebih dahulu sebelum membacakan putusan.

Hanya dalam hitungan menit dalam sidang yang digelar di Ruang Chandra, PN Simalungun, Selasa (30/1/2018) sekira pukul 14.00 WIB, Lisfer Berutu didampingi Novarina Manurung dan Mince Ginting, sebagai hakim anggota, membacakan putusan setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU), Agus Sinaga membacakan tuntutan kepada 3 orang terdakwa pemalsu SIM.

Putusan itu dibacakan sesudah Lisfer melirik seraya menundukkan kepalanya ke sebalah hakim anggota, Novarina Manurung, sebagai kode sepakat. Padahal, sesuai dengan aturan yang ada, menurut salah seorang pengacara yang mengikuti persidangan tersebut, mengatakan, seyogianya majelis hakim harus melakukan skors dan melakukan musyawarah.

"Sesuai dengan aturan KUHAP. Itu enggak boleh asal memutuskan. Harus dimusyawarahkan dulu. Sidangnya diskors, baru dimusyawarahkan," tegas pengacara yang enggan namanya disebutkan.

Lanjut pengacara yang aktif di Divisi Pemberdayaan Perempuan Dana Anak LBH Perjuangan Keadilan in  menerangkan, sidang tersebut merupakan kasus yang serius karena melibatkan pemalsuan dokumen negara yakni, SIM.

Kendatipun demikian, majelis hakim yang memimpin persidangan tidak melihat masalah ini dengan hati - hati, malah terkesan sudah "diatur".

"Ini kasus yang melibatkan dokumen negara. SIM itukan dokumen resmi kenegaraan. Kenapa malah terkesan disamakan dengan pemalsuan tandatangan. Terdakwa pemalsuan notulen rapat aja mendapat hukuman bertahun-tahun," imbuhnya.

Dedy Syahputera Manurung, Boby Armad, dan M. Khalik Saragih adalah terdakwa pemalsuan SIM, pada Sabtu (4/11/2017)  lalu, yang diamankan saat melintas di Jalan Siantar Parapat, Nagori Dolok Parmonangan, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun.

Bermula ketika terdakwa bergabung dalam grup aplikasi whatsapp dalam grup Rental Innova Sumbagut  yang mempunyai anggota kurang lebih 40 orang dan yang menjadi adminnya adalah Boby Armad.

Boby Armad pada sekitar bulan Juli 2017 lalu, pernah menawarkan untuk pengurusan SIM agar menghubungi dirinya.

Dari persidangan yang digelar Selasa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Sinaga, menuntut ketiga terdakwa 5 bulan kurangan dan hakim yang diketuai oleh Ketua PN Simalungun, Lisfer Barutu, memutuskan ketiga terdakwa dihukum 4 bulan kurungan.

Penulis: gee. Editor: gun.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!