HETANEWS.COM

Ibu Korban Diduga Ketahui Putrinya Disetubuhi Ayah dan Paman Kandung

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

Tobasa, hetanews.com - Aksi pencabulan yang dialami siswi SMP di Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) inisial AS (16) diduga diketahui ibu kandungnya.

Sebelumnya, AS warga Desa Nadeak Napitupulu, Kecamatan Silaen ini disetubuhi ayahnya berinisial  JS (38) dan paman kandungnya MN (33).

Perlakuan bejat JS dan MN dilakukan berulang-ulang sejak korban berusia 12-16 tahun  Akibatnya korban saat ini mengandung 4 bulan dan mengalami depresi berat.

Dari informasi yang dihimpun Tim Relawan Investigasi Cepat (quick investigation voluntary) Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) di Tobasa, Minggu (28/1/2018), perlakuan bejat yang dialami korban justru diduga diketahui ibu kandungnya.

Menurut keterangan korban kepada pihak Kepolisian dan informasi dihimpun dari warga setempat, setelah ibu korban mengetahui anaknya hamil, untuk menghilangkan bukti perlakuan ayah dan pamannya, justru diduga memerintahkan AS minum obat agar menggugurkan kandungannya.

Untuk memberikan dukungan moral dan psikologi terapi terhadap korban, Komnas PA bersama pegiat perlindungan anak di Tobasa, Jumat (2/2/2018) akan menemui korban dan warga Desa Nadeak Napitupulu.

Selanjutnya, Sabtu (3/2/2018) akan bertemu dengan Kapolres Tobasa dan penyidik Unit Perlindungan Perempuan Anak ( PPA) untuk melakukan koordinasi penegakan hukum atas peristiwa kejahatan kemanusiaan yang dialami AS.

Hal ini disampaikan Arist Merdeka Sirait selau Ketua Umum Komnas PA kepada hetanews.com, Minggu (28/1/2018).

Arist Merdeka menambahkan, kasus yang dialami AS  merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) setara dengan tindak pidana korupsi, narkoba dan terorisme.

Menurutnya, dalam kunjungan Komnas PA di Polres Tobasa mendorong pihak Kepolisian untuk berkenan menjerat tersangka dengan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu Nomor  1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU Nomor 23 Tahun 2002, junto UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Tujuannya agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) dapat menuntut pelaku dengan acaman pidana minimal 10 tahun dan maksimal pidana penjara 20 tahun. Juga dapat ditambahkan dengan pidana tambahan fisik seumur hidup dan hukuman tambahan 'kastrasi' kebiri melalui suntik kimia. Serta dapat ditambahkan pula dengan tambahan hukuman sepertiga dari pidana pokoknya.

"Jika ibu korban terbukti dan meyakinkan ikut serta atau mendukung terjadi kejahatan seksual ini, ibu korban dapat dijerat pidana penjara maksimal 15 tahun dan minimal 5 tahun. Yang terpenting tidak ada 'kata damai' terhadap kejahatan seksual," tukas Arist.

Dalam pengungkapan kasus kejahatan seksual yang terjadi di Desa Nadeak Napitupulu, tidaklah berlebihan jika Komnas Perlindungan Anak memberikan apreasi terhadap kepedulian warga Desa Nadeak  Napitupulu atas peristiwa itu.

Demikian juga memberikan apresiasi kepada Polres Tobasa yang telah cepat dan sigap menindaklanjuti laporan warga, sehingga pelaku dapat ditangkap dan korban dapat diselamatkan.

Atas peristiwa itu, sudah saatnya warga masyarakat di Tobasa secara khusus di Kecamatan Silaen segera waspada dan peduli terhadap anak.

Dengan menumbuhkan gerakan bersama menjaga dan melindungi anak harus dilakukan sekampung atau 'sahuta' yakni Sada Anak Sada Boru.

Penulis: frengki. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!