HETANEWS

Disetubuhi Ayah dan Paman Kandung, Tobasa Darurat Kekerasan Seksual Anak

Pelaku JS yang menyetubuhi putri kandungnya. (foto/frengki)

Tobasa, hetanews.com - Kasus kekerasan terhadap anak marak terjadi di wilayah hukum (wilkum) Polres Toba Samosir (Tobasa).

Terhitung dalam 7 bulan dari Mei 2017 sampai Januari 2018 ada 31 kasus kekerasan anak dan perempuan.

Yang terbaru, kasus pencabulan terhadap inisial AS (16) siswi SMP di Kecamatan Silaen. Mirisnya, korban hamil usai disetubuhi ayahnya JS (38) dan paman kandungnya AMN (33).

Terungkapnya kasus pencabulan itu saat seorang guru di sekolah korban merasa curiga melihat tubuh AS agak gemuk dan perut mulai membesar.

Guru tersebut memanggil ibu kandungnya supaya korban diperiksa  ke bidan untuk mengetahui perut AS yang sudah mulai membesar. Hasilnya diketahui AS sudah positif hamil 4 bulan.

Pihak keluarga membujuk korban supaya memberitahukan siapa yang merusak masa depannya. AS pun mengaku, jika sang paman yang pertama sekali menyetubuhinya.

Mereka melakukan persetubuhan seperti layaknya duami istri sejak dari bulan November tahun 2015 sampai 18 Januari 2018.

Bahkan korban disetubuhi 2 kali dalam seminggu. Apabila korban tidak melayani nafsu bejat AMN, maka diancam akan dibunuh, termasuk jika memberitahukan pada orang lain.

Ternyata JS juga ikut menikmati kemolekan tubuh darah dagingnya sendiri. Juga mengancam korban apabila memberitahukan pada orang lain. JS mulai menyetubuhi korban  dari bulan November 2017 sampai Januari 2018 sebanyak 3 kali.

Awalnya ibu korban melaporkan sang paman ke Polres Tobasa. Selanjutnya pelaku diciduk personil Satuan Reskrim Polres Tobasa untuk dilakukan pemeriksaan.

Saat diperiksa, ayah korban masih berstatus saksi. JS sempat berdalih dalam pemeriksaan di ruangan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tobasa tidak ada menyetubuhi putrinya. Akhirnya petugas hanya menahan AMN.

Beberapa hari kemudian, JS akan membawa korban ke Medan untuk mengugurkan kandungannyam Namun rencana untuk mengugurkan kandungan itu gagal. JS pun menghilang dari kampung halamannya.

Sat Reskrim Polres Tobasa akhirnya berhasil melacak posisi JS di Medan. JS pun dibawa ke kampung mereka di daerah Napitupulu, Kecamata Silaen untuk diinterogasi di depan putrinya. Pasalnya AS juga mengakui bahwa JS ikut juga menyetubuhinya.

Dalam kasus ini, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mendesak Polres Tobasa untuk menerapkan Undang-Undang (Nomor) 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang, dengan ancaman minimal 10 tahun atau maksimal 20 tahun.

"Bila perlu ditambah hukuman fisik pemberatan bahkan hukuman seumur hidup dan hukum kebiri lewat suntik kimia. Ini ditambahkan sepertiga apabila pelakunya orang tua kandung maupun kerabatnya," sebut Arist, Sabtu (27/1/2018).

Arist menegaskan, pihaknya akan mendesak agar Polres Tobasa menggunakan UU itu supaya pidana pokoknyabisa maksimal.

"Ada 31 kasus yang terjadi, maka Kabupaten Tobasa sudah darurat sekali terutama terhadap anak. Tobasa sudah wilayah darurat kejahatan seksual," paparnya.

Arist menuturkan, Pemkab Tobasa harus berikan perhatian ekstra agar kasus kekerasan terhadap anak ini bisa dikurangi dengan turun ke desa-desa.

"Pemerintah harus mengajak tokoh-tokoh agama dan adat untuk melakukan pencegahan upaya kekerasan seksual terhadap anak dan tidak bisa berhenti begitu saja. Ini menunjukkan Tobasa sudah darurat dalam kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur," tukasnya, seraya menyatakan dalam waktu dekat akan turun ke Tobasa.

Arist juga menegaskan, tidak ada toleransi dalam kasus ini dan akan mengawalnya. Karena pelakunya adalah orang tua dan paman korban.

Penulis: frengki. Editor: aan.