HETANEWS

Penantian Putusan Hukum Nenek 92 Tahun Tersangka Penebangan Pohon

Saulina boru Sitorus bersama anak-anaknya. (foto/Julina Martha Hutapea)

Tobasa, hetanews.com - Sidang putusan tersangka penebangan pohon di tanah wakaf Dusun Panamean, Desa Sampuara, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) akhirnya divonis penjara 4 bulan 10 hari dipotong masa tahanan, Selasa (23/1/2018) di Pengadilan Negeri (PN) Balige.

Keenam tersangka yakni, Marbun Naiborhu (46), Bilson Naiborhu (60), Hotler Naiborhu (52), Luster Naiborhu (62), Maston Naiborhu (47) dan Jisman Naiborhu (45), masih harus menjalani sisa masa tahanan beberapa hari lagi.

Namun kegelisahan keluarga besar Naiborhu belum terhenti dengan keputusan pengadilan untuk keenam tersangka. Mereka masih harus menunggu sidang putusan Saulina boru Sitorus (90) yang akan digelar Senin 29 Januari 2018 mendatang di PN Balige.

Di usia yang sudah lanjut Saulina boru Sitorus masih bisa diajak bicara dengan baik. Setiap ucapannya selalu menekankan jika dia dan anak-anaknya pernah minta maaf kepada Japaya Sitorus (70), bukan karena pohon itu milik Japaya atau tidak. Itu dilakukannya semata-mata untuk menghindari keributan antar tetangga, namun berakhir dibalik jeruji besi.

Jika kemudian upaya damai ditolak oleh pihak Saulina dan keluarga, menurutnya itu sangat masuk akal karena mereka tidak sanggup menuruti nominal yang diminta Japaya. Dan mereka sudah dilaporkan ke polisi.

Sehingga menurut Saulina upaya damai akan sia-sia saja dilakukan, karena dia dan keenam anaknya sudah berstatus tersangka.

Sedangkan Japaya menyatakan, menyebut nominal ratusan juta sebagai syarat berdamai karena kesal dan juga menghitung segala kerugian yang diakibatkan penebangan pohon tersebut.

Namun semua alasan Japaya disanggah oleh Saulina. Menurutnya, yang paling penting baginya sudah mendapatkan izin dari  empunya tanah wakaf tersebut. Dan kini dia hanya menginginkan anak-anaknya pulang dan kembali melanjutkan hidup bersama keluarganya masing-masing. 

Sejak awal Saulina sudah rela menawarkan dirinya dipenjara. Karena dia lah yang menyuruh anak-anaknya membebaskan tanaman-tanaman yang sekiranya dianggap mengganggu pembangunan tambak atau .makam leluhur mereka. 

Penulis: tim. Editor: aan.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.