HETANEWS.COM

Buaya Tembaga Ditemukan Warga Negeri Lama Labuhanbatu, Ada Mitosnya

Penangkapan buaya rawa di Sungai Bomban Negeri Lama Bilah Hilir, Labuhanbatu, menjadi pembicaraan hangat kalangan masyarakat, terutama pengunjung Facebook. (foto/sofyan)

Labuhanbatu, hetanews.com - Penangkapan buaya rawa di Sungai Bomban Negeri Lama Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, menjadi pembicaraan hangat kalangan masyarakat, terutama pengunjung Facebook.

Anehnya, terlihat ciri-ciri buaya ini sangat unik, berwarna kuning tembaga, ukuran 1 meter dan mempunyai mitos dan aneh, tapi nyata legenda di Bilah Hilir.

Khairul (35), warga Titi Panjang Hilir Negeri Lama Bilah Hilir menuturkan, penemu buaya yang masih anakan  itu sangat menyimpan misterius dan ada cerita ketika menangkap buaya tersebut.

"Buaya masih anakan ini hidup di aliran Sungai Bomban. Beberapa hari ini menjadi tanda tanya, bahwa buaya ini sering muncul setiap saya mau mandi, di jamban belakang rumah. Dan saya pun penasaran, sehingga berusaha mendapatkannya dengan menggunakan alat pancing yang kecil. Saya tarik diam dan tidak melawan. Langsung saya masukkan ke sampan dan dibawa ke belakang rumah, tanggal 21 Januari 2018. Buaya ini dalam keadaan tidak cacat," terang Khairul.

Mendengar informasi, baik di media sosial dan laporan warga, Kapolsek Bilah Hilir, AKP Ery Prasetyo, Camat Bilah Hilir, Bonaran Tambunan dan Lurah Negeri Lama, Syahril, bersama Kepling, Jubir Hasibuan melihat tempat penemuan  buaya tersebut, persisnya di belakang rumah Khairul, masih terikat hidup di bawah pohon yang ada airnya, tidak jauh dari aliran Sungai Bomban, Senin (22/1/2018).

"Kita sudah lihat dan saksikan, benar buaya masih anakan itu, panjangnya 1 meter berwarna kuning dan masih terikat. Penemu buaya tersebut menyampaikan kepada kita, bahwa dapatnya buaya ini dengan alat pancing yang kecil dan ceritanya cukup panjang. Namun kita Muspika dan Lurah sudah melaporkan via seluler ke KSDA,” jelas Kapolsek.

"Buaya tembaga (warna kuning) lambang Kerajaan Kesultanan Bilah. Kata orang asli Bilah ini ada berhubungan dengan masa - masa zaman penjajah dulu. Reftil ini, penghuni anak sungai Bomban sampai ke Kampung Bilah. Dulunya anak sungai ini sebagai transportasi kapal kerajaan.  Anak sungai ini tetap seperti dulu, aliran sungai ini mempunyai nilai sejarah kesultanan dan kerajaan sampai ke Sungai Bilah dan ke laut lepas. Saya Raja Azwar dan Raja Khairul masih mempunyai garis keturunan raja, supaya  buaya ini dikembalikan ke habitatnya,"terang Raja Azwar dan Raja Khairul.

Raja Khairul, Penemu Buaya Kuning bersama KSDA wilyah 3 Padang Sidempuan dan Muspika Bilah Hilir, Lurah Negeri Lama, Syahril dan Kepling, Jubir Hasibuan serta Tokoh Masyarakat usai melepaskan kembali Buaya berwarna kuning tersebut ke aliran Sungai Bomban Negeri Lama Bilah Hilir,  Selasa (23/1/2018). (foto/sofyan)

Unik, setelah ditangkap, buaya ini, beberapa jam, lalu induknya muncul di permukaan aliran sungai tempat pemandian Khairul, dimana didapatkan anaknya yang mengartikan minta dikembalikan anaknya.

Begitulah  kata Raja Azwar disahuti beberapa tokoh masyarakat minta "balek kan sajolah kasian kita indok nyen man cari cari baya" kata mereka dengan bahasa Bilah. 

"Sejarah  warna kuning, merupakan warna Kerajaan Bilah atau Sultan Bilah. Saya masih koordinasi dengan muspika, saupaya mencari solusi terbaik agar buaya ini bisa hidup di habitat asli dan bertemu dengan induknya dan kita minta masyarakat dipinggiran aliran sungai ini agar berhati-hati juga, “pungkas Lurah Syahril didampingi Kepling, Jubir Hasibuan dan Sulaiman. 

Bidang KSDA Wilayah 3 Padang Sidempuan, Darmawan bersama anggota, turun langsung melihat buaya itu, Selasa (23/1/2018), menysul adanya laporan Muspika Bilah Hilir.

"Baru kali ini kita menemukan buaya rawa anakan ini. Ukuran 1 meter, lebarnya lebih kurang 25 cm warna kuning (tembaga) dan tidak jahat, “kata Darmawan bersama 3 orang anggotaya.

Setelah diadakan musyawarah di rumah Raja Khairul, dihadiri tokoh masyarakat, Ucok Perap, Raja Azwar, Raja Khairul   dan Muspika Bilah Hililr, serta Lurah Negeri Lama, Syahril  didampingi dua kepala lingkungan, disarankan melepaskan kembali anak buaya ini ketempat semula, yaitu aliran sungai Bomban.

Penulis: sofyan. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan