Wed 14 Nov 2018

Penjaga Gedung Juang Ini Terkena Stroke, Ingin Pulang ke Kota Tebingtinggi

Abdullah saat di Gedung Juang, Jalan Merdeka Kota Siantar, Senin (22/1/2018). (foto/hug)

Siantar, hetanews.com - Seorang pria tampak duduk di lantai teras Gedung Juang Siantar saat petugas kepolisian resort Siantar datang menertibkan puluhan pemuda-pemudi yang identik bergaya Punk. Bersandar di dinding gedung itu, ia berteriak minta tolong, setelah polisi memboyong kawanan anak muda tersebut ke markas besar kepolisian kota berhawa sejuk ini.

“Pak tolong lah pak … Aku uda lama disini,”lirihnya seraya menangis tersedu - sedu, Senin (22/1/2018) sore di Jalan Merdeka, Kota Siantar, sekira pukul 17.00 WIB.

Pria berjanggut lebat itu, bernama Abdullah Bakti Damanik. Selama ini, dia terlunta - lunta akibat penyakit stroke yang dideranya.Kendati demikian, dirinya masih bertahan walau tidak mampu berdiri dan harus menahan rasa lapar yang selama ini ia rasakan. Abdullah menahan itu semua dengan sendiri, tanpa bantuan atau perhatian orang lain. 

Dengan kondisi yang tidak sehat, Abdullah sungguh  tidak mampu berkomunikasi layaknya orang normal. Dirinya merasa penyakit stroke yang dialaminya, menyebabkan ingatannya semakin buruk. Bahkan, dia tidak mampu mengingat berapa usianya kini. 

“Aku kerja menjaga ini (Gedung Juang). Aku selama ini tinggal disini, tolonglah pak, aku mau pulang  pak, ”katanya.

Abdullah, mengaku menderita stroke setelah ditinggal cerai istrinya. Ayah tiga orang anak ini sebelumnya tinggal di Kota Tebingtinggi. Namun, dirinya sudah lama melalangbuana di Kota Siantar. Bahkan, beberapa warga mengenali dirinya sebagai mantan petugas jaga Rumah Dinas Bupati Simalungun lama,  di Jalan Adam Malik, Kota Siantar.

“Kalau gak salah, dia (Abdullah,red) orang sini juganya. Orang Siantar ini. Dulu pernah dia kerja di rumah Dinas Bupati yang di Jalan Adam Malik itu,” ujar seorang pria yang ketepatan lewat dan menyapa Abdullah.

Menurut pengakuan warga yang ditemui di lokasi, Abdullah saban hari tidur terkapar di gedung simbol perjuangan itu, karena tidak memiliki tempat tinggal. Yang dilakukanya sehari - hari adalah meminta belas kasihan orang agar memberinya sedekah untuk sesuap nasi. Ia pun berharap ada seseorang yang terbuka hatinya untuk membantunya.

“Aku sakit stroke setelah diceraikan istriku. Aku mau pulang ke Tebing Pak… Tapi aku gak punya ongkos, tolonglah pak, tolong,” ucapnya sedih.

Penulis: gee. Editor: gun.
Komentar 2