HETANEWS

Ketika Sebuah Laptop Menimbulkan Kerisauan Bagi Pelajar di Negeri Ini

Ona Apriani (kiri) ditemani sang nenek, Saginem. (foto/noto)

Simalungun, hetanews.com - Kegelisahan tengah melanda Ona Apriani, seorang siswi yang kini duduk di bangku kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Al Fajar, Nagori Bukit Rejo, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Ona tampak mondar,mandir mengitari ruas jalan perkampungan yang dihuni mayoritas suku Jawa itu, untuk mencari orang yang berkenan meminjamkan sebuah laptop.

Saat tim hetanews.com menyambanginya, Ona mengaku memerlukan sebuah laptop untuk digunakan sebagai alat kelengkapan simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan diadakan pada Senin mendatang.

Masih tergambar jelas di wajah remaja 14 tahun ini, semangatnya untuk menggapai cita-cita dan lulus dari sekolah yang letaknya tidak jauh dari kediamannya.

Namun apa daya, Ona yang kini dirawat dan dibiayai sang nenek, Saginem (60) yang hanya bekerja serabutan mengais sisa-sisa lidi, di perkebunan kelapa sawit milik perusahaan Perkebunan Nusantara IV, mengaku pasrah bila tidak bisa ikut simulasi ujian.

“Enggak tau lagi om harus kayak mana, kata ibu gurunya disuruh mengusahakan laptop biar bisa ikut ujian. Tapi saya enggak punya laptopnya, udah pinjem kesana kemari tapi enggak ada yang punya katanya,” kata Ona kepada hetanews.com, Jumat (19/1/2018).

Menurut Saginem, dirinya tidak dapat memenuhi permintaan sang cucu dikarenakan masalah ekonomi keluarga yang terbilang sangat pas-pasan. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Saginem bersama sang suami harus berusaha keras mengais lidi dan itu pun hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.

“Kalau adapun yang menawari untuk kredit laptop, uang darimana om. Hasil jualan lidi ini pun pas-pasan buat makan. Kasihan juga cucu saya kalau enggak bisa ikut ujian gara-gara enggak punya laptop, tapi mau kayak mana lagi. Neneknya pun enggak bisa belikkan laptopnya,” ujar Saginem tampak meneteskan air mata.

Tidak hanya Ona, ada 2 orang siswi yang bernasib sama dengan dirinya, dan kini tengah mengupayakan untuk mendapatkan laptop demi bisa ikut simulasi ujian.

“Kami ada 15 orang siswa/i om, yang lainnya sudah pada punya laptop, tapi tinggal 3 orang lagi yang belum punya,” tutur anak ke 2 dari 2 bersaudara ini.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) MTs Al Fajar, Arina Ningsih, menuturkan, pihaknya berjanji akan mengupayakan laptop bagi siswa/i yang belum memiliki. Kata Arina, pihak sekolah tidak mungkin membiarkan siswa/i nya untuk tak mengikuti simulasi ujian hanya karena tidak memiliki laptop.

“Kita akan upayakan untuk yang belum punya laptop. Dan tidak mungkin kita berdiam diri dan membiarkan ada murid yang enggak ikut ujian karena tidak punya laptop,” jelas Arini dari seberang telepon saat dihubungi hetanews.com

Perlu diketahui, penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Namun seiring berjalannya waktu, permasalahan UNBK tidak hanya sebatas kemampuan siswa/i dalam memahami teknologi, melainkan merambah pada semakin meningkatnya kebutuhan kelengkapan sekolah yang harus dipenuhi oleh orang tua ataupun wali siswa/i.


Penulis: tim. Editor: gun.