HETANEWS.COM

Buntut dari Vonis Bebas Mangara, 3 Hakim PN Siantar Diadukan ke MA dan Komisi Yudisial

Sepriandi Saragih. (foto/BT)

Siantar, hetanews.com - 3 Hakim Pengadilan Negeri (PN) Siantar, resmi dilaporkan ke Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung (MA). Ketiganya yang memvonis bebas terdakwa perkara pembunuhan balita. Dilaporkan atas dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku hakim.

Adapun para pengadil meja hijau menangani perkara yang teregister di nomor perkara 176/pid.sus/2017/pn pms, yakni Fitra Dewi Nasution (hakim ketua), Fhytta Imelda Sipayung dan Simon Charles Pangihutan Sitorus, keduanya merupakan hakim anggota.

"Yang kami laporkan majelis hakim atas putusannya yang membebaskan terdakwa  Mangara Tua Siahaan yang didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas kematian anak berumur 2.5 tahun," tulis Sepriandi Saragih, selaku kuasa hukum korban.

Lebih lanjut Sepriandi yang juga sebagai pelapor menyatakan, dalam pertimbangannya memutus perkara hakim dimaksud tidak cermat diantaranya:

1.Hakim mengabaikan hasil visum et repertum. Intinya, bahwa kematian korban tidak wajar,  sebab dijelaskan dalam hasilnya kematian korban adalah mati lemas karena adanya pendarahan dirongga tengkorak yang disebabkan kekerasan tumpul pada daerah kepala yang cenderung terjadi secara berulang ulang.  Termasuk ada ditemukan luka memar ditubuhnya yakni wajah,  dada, perut, punggung,  bokong,  tangan dan kaki.  Serta patah pada ruas tulang punggung.

2. Majelis hakim tidak berusaha dengan sungguh - sungguh menggali lebih dalam, menemukan kebenaran materil berdasar fakta hukum dari alat bukti yang diajukan, termasuk kesaksian dari saksi yang diajukan JPU.  Diantara saksi Nersi Katarina Pardede yang intinya menyatakan  bahwa korban pernah cerita, bahwa terdakwa sering menganiaya korban,  saksi Sri Wahyuni yang intinya, bahwa korban jika bertemu terdakwa selalu diliputin rasa ketakutan,  dan saksi Rugito yang intinya pernah melihat terdakwa menusuk - nusuk korban pakai jarum.

Terakhir, tidak menggali lebih jauh atas kesaksian Putri Maharani yang mana saksi ini yang jelas melihat kekejaman atas tindakan terdakwa terhadap korban di TKP, namun kesaksiannya tidak dianggap majalis. Dalam hal ini, hakim mengabaikan pasal 12 konvensi hak anak yang telah diratifikasi dengan Kepres No.  36 Tahun 1990 yang berbunyi: 1. Negara - negara pihak harus menjamin bagi anak yang mampu membentuk pendapat sendiri dan seterusnya.  2. Untuk tujuan itu maka anak terutama harus diberi kesempatan untuk didengar pendapatnya dalam persidangan...dst.

"Mengacu pada Pasal 184 KUHP ayat 1, alat bukti sah adalah mencakup keterangan saksi, keterangan ahli,  surat,  petunjuk,  keterangan terdakwa.  Intinya surat hasil visum diabaikan majelis," tegasnya.

"Karena kasus ini korbannya anak,  dan ada saksi yang masih dibawah umur yang melihat langsung perbuatan penganiayaan terdakwa harusnya dapat disumpah sebagai saksi, sepanjang alat bukti lain yang mendukungnya. Dan yang terakhir,  sejatinya jika majelis yang memeriksa dan memutus perkara ini harusnya jika berani membebaskan terdakwa harusnya juga berani memerintahkan JPU/penyidik Polres Siantar mencari pelaku sebenarnya?  Namun hal ini tdk dilakukan majelis hakim. 

Dimana kepastian dan keadilan hukum bagi korban dan keluarganya?  Apakah hukum tidak lagi berpihak  bagi orang kecil/miskin seperti keluarga Julio Sinaga.  Apakah majelis tidak memiliki nurani selaku ciptaan TYME, gugahnya.

Baca Juga: Terdakwa Pembunuh Bayi Julio Dibebaskan Hakim, Polres Siantar Tetap Yakin Mangara Pelakunya

Baca Juga: Terdakwa Pembunuh Bayi Julio Dibebaskan Hakim, Keluarga Peluk dan Tangisi Mangara Tua

Baca Juga: Vonis Bebas Terdakwa Kasus Bunuh Bayi, Ini Karir Hakim Fitra Dewi Nasution dan Harta Kekayaannya

Baca Juga: Menganiaya Bayi dengan Sangat Keji, Mangara Tua Diancam 15 Tahun Penjara

Dengan adanya laporan tersebut, Sepriandi, mengharapkan segera ditindaklanjuti kedua lembaga kehakiman itu, sehingga dapat memberi kepastian hukum.

"Kami mintakan agar MA dan Komisi Yudisial, segera menindaklanjuti laporan kami ini, demi terwujudnya keadilan dan kepastian hukum bagi korban atau keluarga klien kami," ujarnya mengakhiri.

Diberitakan sebelumnya, terdakwa kasus pembunuhan bayi, bernama Julio Sinaga, Mangara Tua Siahaan divonis bebas, pada 13 Desember 2017. Vonis bebas dinilai berbanding terbalik dengan tuntutan 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum.

Penulis: bt. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan