HETANEWS

Ini Beberapa Catatan Oknum Pejabat Asahan yang Alergi pada Wartawan

Asahan, hetanews.com - Masih alerginya beberapa oknum pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan kepada para jurnalis (wartawan) menjadi pertanyaan.

Pasalnya, para oknum pejabat masih ada yang menolak bertemu saat dikonfirmasi. Juga  bersikap gahar dalam memberi jawaban setiap dicerca pertanyaan.

Sementara wartawan itu jelas fungsinya untuk menulis berita. Maka, harus menggali beberapa sumber dan mengkonfirmasi terkait isi berita yang akan ia tulis hingga menjadi sebuah karya tulis jurnalistik. 

Namun, sikap tidak bersahabat itu terjadi di beberapa instansi pemerintahan di Asahan, di mana seperti saat Perdana Ramadhan, seorang wartawan media cetak pada saat tanggal 6 Desember 2017, dirinya dimarahi oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah H Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran, Edi Iskandar saat mau mengambil gambar sang direktur itu. 

Perdana pun mengatakan, secara pribadi selaku wartawan sangat menyangkan sikap para pejabat di Asahan ini karena masih alergi dengan wartawan. "Saya masih ingat kata Pak Direktur itu. 'Aku ini Orang Pasaran'," ujar Perdana menirukan ucapan direktur kepada hetanews.com, Senin (15/1/2018).

Kembali Perdana bercerita, tidak sampai disitu saja, kembali ditanya beberapa pertanyaan Direktur RSU HAMS Kisaran pergi dan masuk ke ruang rapat, di kantor DPRD Asahan  sembari membanting pintu.

Hal serupa juga terjadi oleh Anton Panjaitan, wartawan media online dan rekannya  saat mengkonfirmasi Kadis Kesehatan Asahan,  Aris Yudhariansyah, di ruang kerjanya, pada 18 Mei 2017, lalu. Di mana para awak media hendak mengkonfirmasi terkait penyakit yang ditimbulkan  pasca banjir saat itu. 

Penolakan Kadis disampaikan melalui ajudan. Aris hanya duduk di kursi di dalam ruang kerjanya, sambil menyaksikan sang ajudan menyampaikan perintahnya kepada Anton Panjaitan dan rekan-rekannya. "Padahal Kadis (Aris Yudhariansyah) sudah melihat kami. Tapi menolak menerima bertemu," ujar Anton.  

Lagi-lagi hal serupa terulang, kepada Maryadi, wartawan media cetak, beserta Anton Panjaitan saat peliputan kepulangan  jemaah haji pada  4 Oktober 2016 lalu, di pendopo MTQ Masjid Ahmad Bakri Kisaran, di mana petugas Satpol PP melarang masuk atas perintah pimpinannya, Isah Harap. 

"Kami dilarang masuk agar tidak menghalangi bus yang membawa jemaah haji yang tiba saat itu.  Isah yang menjabat Kasatpol PP ini menyuruh kami meminta ijin terlebih dahulu kepada Kabag Humas, di masa itu. Namun  Taufik,  Sekretaris  Daerah Asahan dan saat itu selaku Asisten, akhirnya membawa kami masuk setelah sempat bersitegang dengan ucapan Isah Harahap," ujar Anton Panjaitan. 

Tidak sampai disitu saja, hal serupa lagi - lagi terjadi. Di mana oknum petugas Satpol PP Asahan diduga merusak surat tugas seorang wartawan media online, bernama Susilawadi pada saat mengkonfirmasi terkait pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Listrik, pada 12 Januari 2018. 

Kepada hetanews.com, Susilawadi mengatakan, kalau tidak berkenan menjawab diam saja jangan meremek surat tugasnya dan menunjukkan KTA  oknum petugas PPNS bernama Nasaruddin itu sembari mengucapkan "kau pikir gampang mendapatkan ini,”.

Sementara itu, menyikapi tindakan yang dilakukan beberapa pejabat pemerintahan di Asahan ini, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Kabupaten Asahan, Indra Sikumbang, menyayangkan sikap beberapa oknum pejabat yang masih alergi dengan wartawan pada era keterbukaan informasi saat ini. Padahal, tugas wartawan dalam melaksanakan tugasnya telah diatur dan dilindungi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. 

"Kiranya pejabat di pemerintahan Asahan tidak alergi, namun lebih terbuka untuk menjawab pertanyaan awak media, juga selaku pengambil kebijakan di instansi yang dia pimpin, sehingga mampu memberi ruang untuk menjalankan tugas kami sebagai jurnalis  untuk mempublikasikan kepada masyarakat secara luas sebuah karya tulis, “ ungkap Indra. 

Indra juga berpesan, agar para pejabat pemerintahan dapat mempelajari apa isi  UU Pers itu. Sehingga apa yang diharapkan pemerintah dengan awak media untuk membuat pemberitaan yang dapat membangun,  meningkatkan, mencerdaskan  daerahnya terus berjalan dengan baik.

Penulis: heru. Editor: gun.