Fri 20 Jul 2018

Keluhan Tenaga Magang Djasamen Saragih Terkait Uji Kompetensi

Para tenaga magang di RSUD Djasamen Saragih saat mengikuti pertemuan dengan jajaran Direksi BLUD Djasamen Saragih, Jumat (12/1/2018). (foto/hug)

Siantar, hetanews.com - Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Djasemen Saragih tidak lagi mengeluarkan jasa medis kepada seluruh tenaga magang yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah sakit.

Para tenaga magang itu meminta supaya status mereka diangkat menjadi pegawai. Sebaliknya, jajaran direksi membuka lowongan pegawai untuk umum lewat uji kompetensi.

Hal itu disampaikan salah seorang tenaga magang yang bertugas sebagai bidan RSUD, usai melakukan pertemuan dengan jajaran direksi rumah sakit tersebut, Jumat (12/1/2018) siang, sekitar pukul 11.45 WIB.

Perempuan muda berkacamata ini, mengaku sudah bekerja selama 4 tahun menjadi tenaga magang. Belakangan, ia mengetahui alasan dari pihak Direksi yang menyatakan bahwa, jasa medis bagi tenaga magang sudah tidak dianggarkan lagi, kecuai bagi karyawan berstatus PNS dan honor.

"Alasannya, tenaga magang dianggap belajar di rumah sakit ini. Padahal, Dirut yang lama, kami masih diberikan gaji. Dan dua tahun yang lalu dijanjikan, tenaga magang otomatis diangkat sebagai pegawai tetap," ungkap perempuan berumur 25 tahun ini, seraya meminta namanya tidak ingin dicantumkan dengan alasan orang tuanya bekerja di rumah sakit berstatus PNS.

Lebih lanjut, ia menanggapi terkait adanya uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Tim Jajaran Direksi untuk penerimaan karyawan. Kata perempuan lulusan S1 kesehatan ini, uji kompetensi tersebut tidak relevan bagi 70 lebih tenaga magang di rumah sakit plat merah tersebut. Alasannya, mereka sudah bekerja layaknya tenaga medis melayani dan mengabdi untuk pasien dan rumah sakit.

Ada pun uji komptensi yang diselenggarakan bulan Februari nanti, sambungnya, otomatis akan membuang para tenaga magang yang dirasa tidak mampu bersaing saat melakasanakan uji kompetensi. Ia menilai, kesempatan itu lebih terbuka kepada orang di luar mereka yang ingin bekerja sebagai pegawai.

"Sementara tenaga magang disini sudah berkeja selama 4 dan 9 tahun lamanya. Uji komptensi itu kan susah, apalagi sama tenaga magang yang sudah ibu-ibu. Otomatis mereka akan gugur karena kesempatan itu kan lebih terbuka sama yang muda-muda yang mampu mengikuti ujian. Kalau aku sendiri mau enggak mau ya belajar lagi lah," katanya seraya menambahkan, ujian kompetensi merekrut pegawai BLUD sebanyak 50 orang.

Senada disampaikan Heni Yuspita, tenaga magang yang bekerja sebagai analisis di RSUF Djasamen Saragih. Uji kompetensi dinilai sebagai syarat kepentingan oleh oknum yang ingin 'menintipkan' calon pegawai yang punya ikatan dengan pihak direksi, atau dari pihak pihak lain yang punya kepentingan. Selain itu, alasan dari jajaran direksi yang menyebut tenaga magang malas bekerja tidak lah benar.

"Dua tahun lalu kami dijanjikan untuk diangkat sebagai pegawai rumah sakit. Kami diming-imingi makanya mau bertahan, walaupun gak diberikan jasa medis selama berbulan-bulan. Kami bukan hanya setahun bekerja. Tapi ada yang tujuh tahun sudah mengabdi disini. Kenapa harus dibuat uji kompetensi ? Kenapa kami tidak diprioritaskan, kami kan sudah berpengalaman,“ $ebutnya.

Dalam pertemuan antara jajaran direksi dan tenaga magang yang didampingi Serikat Buruh Solidaritas Indonesia (SBSI) Siantar sebelumnya, pihak Direksi menyebut, bahwa masalah keuangan rumah sakit sedang tidak sehat.

Tenaga magang yang bekerja di rumah sakit antara lain, perawat, bidan, farmasi dan yang dipekerjakan di laboratorium. Dalam pertemuan itu, terungkap, bahwa para tenaga magang tidak memiliki BPJS Kesehatan. 

"BPJS yang sekarang ini hanya untuk PNS. Kalau BHL otomotasi dapat KIS. Kalau belum dapat BPJS, silahkan melapor ke Capil atau dinas terkait  yang kerja sama dengan BPJS. Silahkan mendaftar ke lurah. Sembari menunggu menjadi karyawan BLUD, silahkan mendaftarkan diri dulu menjadi peserta," kata Dirut RSUD Djasamen Saragih, Susanti Dewayani.

 

Penulis: Hugs. Editor: gun.