Tenaga Magang RSUD Pertanyakan Uji Kompetensi dan Pembayaran Jasa Medis

Pertemuan antara tenaga magang yang didampingi SBSI Siantar dengan RSUD Djasamen Saragih. (foto/hug)

Siantar, hetanews.com - Sebanyak 70 orang lebih tenaga magang RSUD Djasamen Saragih beramai-ramai berkumpul di depan gedung ruangan Direktur, Jumat (12/1/2017) sekira pukul 10.30 WIB.

Sempat terjadi perdebatan dengan salah seorang jajaran Direksi yang membuat suasana menjadi riuh. Namun itu tidak berlangsung lama, setelah kedua belah pihak memilih berembuk di dalam ruang pertemuan.

Didampingi Ketua Serikat Buruh Solidaritas Indonesia (SBSI) Kota Siantar, Ramlan Sinaga, puluhan tenaga medis akhirnya duduk bersama dengan jajaran Direksi BLUD Djasamen. Pertemuan kedua belah pihak ditengahi oleh pihak Direksi yakni Harlen Saragih.

Pembahasan mereka berlangsung cukup alot. Di mana para tenaga magang masih mempertanyakan soal uji komptensi yang tengah digodok oleh Tim BLUD. Selain uji kompetensi, pertanyaan mendasar terkait penghapusan upah para tenaga magang pun ikut dibahas.

Ramlan Sinaga meminta supaya pihaknya ikut dilibatkan dalam hal pembahasan upah, serta meminta jajaran Direksi agar lebih terbuka dalam memberikan penjelasan mengenai pengelolaan anggaran kepada publik. Dengan alasan RSUD Djasamen Saragih adalah milik pemerintah.

Namun hal itu ditepis Dirut RSUD Djasamen Saragih, Susanti Dewayani. Permintaan para tenaga magang soal upah harus terlebih dahulu dibicarakan kepada pemilik rumah sakit, yakni Pemko Siantar.

"Ini rumah sakit pemerintah. Gak seenak selera. Semua keputusan akan kami konsultasikan lagi kepada Wali Kota. Kami menjalani pedoman. Masalah pengganjian, kami tak boleh semau selera. Kita bekerja sesuai dengan pentunjuk Wali Kota. Jadi kita akan konsoltasikan kepada Wali Kota dulu," cecar Susanti.

Dalam pertemuan itu dibahas lagi tentang penerimaan pegawai BLUD yang dibuka untuk umum melalui uji kompentensi, yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Februari nanti.

Suasana pertemuan antara tenaga magang dengan pihak RSUD Djasamen Saragih.

Para tenaga magang menilai upaya yang tengah digodok oleh tim jajaran Direksi ini terindikasikan sebagai pemberhentian mereka secara tidak langsung. Padahal mereka beranggapan, sepatutnya sudah layak dijadikan pegawai, sebab sudah teruji beberapa tahun sebagai tenaga magang. Bahkan mau bekerja tanpa menerima jasa medis selama berbulan-bulan.

Namun hal itu dapat dijelaskan oleh Rony Sinaga yang menjabat sebagai Wadir III. 

"Kami gak mau kecolongan. Dalam uji kompetensi Ini harus diuji psikotes, ini yang harus diuji. Karena kerja disini menyangkut nyawa. Kita enggak mau ada pegawai yang tidak lolos psikotes. Karena mereka bekerja menyangkut nyawa, dan kami tidak mau ada malprakterk. Ini yang harus kita membenahi," ujar Roni.

Dia menambahkan, ujian kompetensi diselenggarakan bekerja sama dengan psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) di Kota Medan agar menghemat biaya.

Pertemuan antara jajaran direksi dan puluhan tenaga magang yang diadvokasi oleh SBSI itu berlangsung lebih kurang 2 jam. Namun dua persoalan itu belum menemukan titik temu, yang menghasilkan jawaban kongkret.

Harlen Saragih yang memimpin alur pembahasan menutup pertemuan dengan berjanji akan mengundang kembali perwakilan tenaga magang dan SBSI untuk membicarakan hal tersebut.

Penulis: Hug. Editor: Aan.