Ini Cerita Supervisor Paksa Oral Seks Karyawati RSVI

LI boru Sidabutar (jaket merah) didampingi calon suaminya usai memenuhi pemeriksaan lanjutan di Polres Siantar. (foto/ndo)

Siantar, hetanews.com - LI boru Sidabutar (30), merasakan pahitnya bekerja di Rumah Sakit Vita Insani (RSVI) Kota Siantar, setelah sang Supervisor (Spv) berinisial HT (40), memaksanya untuk melakukan oral seks.

Akhirnya, wanita asal Kabupaten Simalungun ini, melaporkan si Spv ke Polres Siantar, Rabu (6/1/2018), lalu. Spv itu, diketahui telah beristri dan memiliki dua anak. Namun, tetap nekat melampiaskan niat bejatnya kepada pekerja, di rumah sakit swasta di Kota Siantar tersebut.

Setelah melaporkan Spv itu, LI boru Sidabutar, kemudian memenuhi panggilan Polres Siantar untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Ia tampak didampingi calon suaminya, serta salah seorang kerabat dekatnya.

Usai memenuhi pemeriksaan lanjutan, LI boru Sidabutar dan calon suaminya, menceritakan pahitnya kejadian yang dialaminya itu. Dikatakannya, tindak pencabulan bejat yang dilakukan oleh Spv itu dilakukan sejak Juli 2017 lalu dan telah 6 kali menimpanya.

"Terakhir 8 Desember (2017). Sudah sejak Juli, dipaksanya selalu kalau pas ketemu dinas. Trus, tanggal 31 Desember kemarin diajaknya aku, tapi aku gak mau. Disitu aku cerita sama dia (calon suaminya), makanya kami ngadu (ke polisi,),"ujarnya, Selasa (9/1/2018), ditemui di Polres Siantar.

Baca Juga : Dugaan Pelecehan Seksual, RSVI Serahkan ke Polisi

Nah, pada 8 Desember itu, dijelaskannya, bahwa ia sebetulnya hendak bertemu dengan seorang Spv lainnya yang perempuan. Namun, ternyata Spv itu oper shift dan yang shift saat malam kejadian adalah terlapor, HT. Disitulah, HT melampiaskan hasratnya dengan memaksa LI boru Sidabutar mengoral seks dirinya.

"Ruangan itu, kalau aku menjerit kedengarannya tapi berulang kali. Pintu berusaha kubuka, tapi ditariknya,"sambung LI boru Sidabutar yang ditambahi calon suaminya, bahwa calon istrinya itu sudah berusaha melawan sampai terjatuh jatuh, namun ada juga ketakutan seperti sampai dibunuh atau lainnya.

Saat kejadian, tidak ada orang melihat. Begitu juga tidak ada CCTV karena kejadian didalam ruangan. Di kejadian itu, ia awalnya berusaha dipeluk. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa karena terlapor yang lebih kuat darinya.

Semenjak ia melaporkan kejadian itu ke polisi dan berita bermunculan di media-media, LI boru Sidabutar mendapat makian-makian dari keluarga terlapor. 6 tahun bekerja di RS Vita Insani, diakhiri dengan kejadian tidak mengenakkan dan pengunduran diri dilakukannya.

"Aku masuk disitu (RS Vita Insani Siantar), dia (terlapor) juga udah disitu. Pas pertama-tama dulu, memang sering juga digangguin gitu-gitu. Aku udah buat surat pengunduran diri, tapi rumah sakit belum acc,"tegasnya yang kemungkinan trauma bekerja di RS tersebut.

Penulis: Ndo. Editor: gun.