HETANEWS

Para Kontraktor Gunakan Sandi Khusus untuk Pemberian Fee pada Bupati

Saksi, Mangapul Butarbutar untuk terdakwa Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar ketika memberikan keterangannya dihadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Medan, Senin(8/1/2018). Tribun Medan/Mustaqim

Medan, hetanews.com - Sidang lanjutan perkara penyuapan terhadap Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnain pada Senin (8/1/2018) di Ruang Utama Pengadilan Tipikor Medan menguak suatu fakta.

Para kontraktor yang menjadi rekanan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara di Dinas PUPR Tahun Anggaran (TA) 2017, selalu menggunakan sandi khusus ketika berkomunikasi dengan Kepala Dinas PUPR, Helman Herdadi dan pemilik Showroom Ada Jadi Mobil, Sujendi Tarsono alias Ayen.

Hal itu terungkap setelah Mangapul Butarbutar, saksi yang dihadirkan Jaksa dari KPK untuk kedua terdakwa menjawab pertanyaan penuntut umum.

Dalam persidangan itu, saksi yang turut mendapatkan proyek pembangunan jalan senilai Rp 17 miliar rupiah menyetorkan uang sebesar Rp 1,7 miliar kepada Ayen. Menurutnya uang itu sebagai fee proyek untuk OK Arya Zulkarnain selaku Bupati Batubara.

"Sebelum pemberian uang itu, saya dan teman-teman kontraktor lainnya dikumpulkan dulu oleh Pak Kadis Helman Herdadi di Hotel Grand Kanaya. Di situ kami membahas uang yang mau diberikan untuk Pak Bupati OK Arya sebesar 10 persen dari nilai proyek yang mau kami kerjakan. Pak Helman langsung menegaskan, ini kue untuk si A, si B, si C dan seterusnya. Jangan lupa uang kuenya sebesar 10% katanya kepada kami," ungkap Mangapul dihadapan Ketua Majelis Hakim, Wahyu Prasetyo Wibowo.

Lebih lanjut, Mangapul menjelaskan uang untuk bupati biasanya diberikan para kontraktor sebelum tender resmi dilakukan.

"Kalau nanti sudah sepakat. Para kontraktor yang telah dapat kue akan diberi arahan untuk melengkapi administrasi dan persyaratan lainnya," sebut saksi.

Selanjutnya, fee sebesar 10 persen itu diberikan kepada orang kepercayaan OK Arya, yaitu Sujendi Tarsoni alias Ayen di Showroom mobil yang terletak di Jalan Gatot Subroto Medan.

"Kalau mau serahkan uang pun harus memakai kata sandi, sebutannya 'beli mobil'. Jadi kalau mau datang ke showroom, telpon dulu si Ayen. Terus dia langsung bilang, mau 'beli mobil'. Ya selanjutnya datang saja. Dia langsung paham kalau mau menyerahkan uang fee proyek untuk bupati," ungkapnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika KPK menangkap tangan Maringan dan Syaiful pada 13 September 2017 karena memberi suap kepada Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnain atas proyek di Dinas PUPR Batubara.

Sehingga keduanya mendapatkan proyek lanjutan peningkatan jalan Labuhan Ruku menuju Desa Sentangagar, Kabupaten Batubara.

Selain keduanya, penyidik KPK juga menetapkan tiga tersangka lain yaitu Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnaen, Kadis PUPR Helman Herdadi dan pemilik Showroom Ada Jadi Mobil, Sujendi Tarsono alias Ayen yang masing-masing diketahui sebagai penerima suap.

Sumber: tribunnews.com

Editor: gun.