Siantar, hetanews.com- Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Utara (Sumut), kian hangat di perbincangkan menjelang berakhirnya tahun 2017.

Seperti yang diketahui, awal tahun 2018 merupakan masa penting bagi Calon Gubernur Sumut (Cagubsu) yang diusung partai politik (parpol) untuk mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, menyusul kosongnya calon independen yang mendaftar.

Sampai hari ini, beberapa nama Bakal Calon (Balon) Gubsu besutan parpol masih belum juga menyatakan sikap politik menjelang pendaftaran yang kian dekat. Bahkan, baru-baru ini Provinsi Sumut di kejutkan dengan manuver politik yang dilakukan partai penguasa pemerintah, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kehadiran mantan Gubernur Jakarta, Djarot Saiful Hidayatullah sontak menggemparkan warga kota Sipangambei Manoktok Hitei. Tidak dapat dipungkiri, elektabilitas Djarot sebagai mantan kepala daerah Jakarta, sejenak ‘menghipnotis’ penduduk di beberapa wilayah Sumut.

Manuver politik yang dilayangkan partai berlambang banteng ini, tak pelak menghadirkan spekulasi, bahwa Djarot digadang-gadang bakal berpasangan dengan sosok Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih atau yang akrab disapa JR Saragih.

Kabar ini tersiar dari unggahan salah satu pendukung jargon Semangat Baru Sumut di akun facebook @semangatbarusumut. Tanggapan beragam kemudian muncul dari warganet maupun masyarakat di Kota Siantar yang ditemui hetanews.com, Rabu (27/12/2017).

Seperti yang ditulis akun @armanson srgh. "ini sih Sumut pasti akan bangkit dan maju seperti ibukotanya," tulisnya. Begitu pun dengan akun @ival dowczen, "aku sangat setuju 1000 % pasti masyarakatnya makmur," tulis Ival.

Berbeda dengan pernyataan warganet, beberapa kalangan mahasiswa justru sedikit meragukan tentang kabar tersebut dan menilai masyarakat untuk tidak terbawa suasana euforia kedatangan Djarot ke Sumut.

"Kita enggak bisa pastikan apa maksud kedatangan Djarot ke Siantar dan mengunjungi wilayah Sumut. Sepertinya koalisi Partai Demokrat dan PDIP akan sulit tercapai, mengingat peta politik di pusat (Jakarta), selama ini kan komunikasi petinggi 2 partai besar ini kan sulit di pertemukan. Tapi yang namanya politik kan abu-abu ya bang, kita juga enggak bisa memastikan Djarot dan JR Saragih bakalan enggak berpasangan, semua kemungkinan bisa terjadi kalau di politik ini," ujar seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Siantar yang enggan dicatut namanya.