HETANEWS

Nenek 90 Tahun Terlunta di Persidangan, Jadi Terdakwa Rusak Pohon Milik Japaya

Nenek berusia 90 tahun jadi terdakwa tuduhan merusak pohon milik Japaya. Tribun Medan/Arjuna

Balige, hetanews.com - Bangku panjang Ruang Sidang Pengadilan Negeri (PN) Balige, dipenuhi kerabat sekampung dan keluarga Saulina boru Sitorus (90), pada pembacaan keterangan saksi meringankan (A De Charge), Rabu (20/12/2017) sore.

Kepada Saulina, earga Dusun Panamean Desa Sampuara, Kecamatan Uluan, Kabupaten Tobasa ini disangkakan pasal 170 ayat 1 KUHP subsider 406 ayat 1 KUHPidana Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1e KUHPidana.

Setelah menunggu sejak pukul 11.00 WIB, sidang akhirnya dimulai pukul setegah enam sore. Para terdakwa digiring menuju ruang sidang mengenakan rompita hanan berwarna merah.

Saulina kelahiran Oktober 1926 ini tidak sendiri. Dia bersama Maston Niborhu (46), Jesman Naiborhu (45), Luster Niborhu (62), Bilson Naiborhu (59), Hotler Niborhu 52) yang salah satunya anak kandungnya.

Juga terdakwa lainnya masih keluarga dekatnya. Mereka didampingi kuasa hukumnya, Natalia Hutajulu dan Boy Raja P Marpaung.

Saulina hanya membisu dan raut wajahnya sedih penuh harap pada hakim PN Balige. Nenek yang akrab disapa Oppu Linda duduk di samping Boy Raja kuasa hukumnya.

Saulina tidak bisa lagi duduk tegak di kursinya, beruntung saat ini dia tidak perlu ikut mendekam di tahanan bersama anak dan keluarganya tersebut. Sementara ke-6 terdakwa lainnya sudah ditahan sejak 19 September 2017 hingga saat ini.

Saulina di usia tuanya ini harus duduk di kursi terdakwa setiap menjalani persidangan setelah diadukan oleh pelapor Japaya Sitorus. Mereka diadukan pada 1 Maret 2017 lalu, ke Polsek Lumban Julu Tobasa.

Dalam laporan Japaya, mereka disebut-sebut merusak pohon durian di dekat areal. Sesuai laporan Japaya, durian tersebut adalah miliknya.

Karenanya, Saulina Sitorus harus pulang pergi Balige-Panamean sekali seminggu mengikuti persidangan menaiki kapal kayu, meski diterjang dinginnya angin danau, apalagi persidangan kerap selesai pada malam hari.

Namun, pada pembacaan keterangan saksi meringankan (A De Charge), pernyataan itu dibantahkan oleh tiga saksi yakni, Kardi Sitorus, Jetti Sirait dan Hiras Naiborhu. Hal itu terungkap ketika Majelis Ketua Marsal Tarigan meminta keterangan saksi.

"Yang saya tahu orang ini menebang kayu durian. Akan tetapi dituntut oleh Japaya. Sebenarnya tanah itu kami punya. Bukan punya Japaya. Tapi, kenapa orang si Japaya ini menuntut. Sebaiknya sayalah yang menuntut, seru Kardi bersaksi.

Menurut Kardi, tanah pekuburan tersebut  sudah mereka berikan digunakan untuk tanah wakaf sesuai mandat ayahnya. Sehingga, ketika para terdakwa datang hendak membersihkan kuburan untuk membangun tugu/tambak sebelumnya sudah meminta ijin keoadanya. Atas restunya, para terdakwa pun mulai membersihkan termasuk menebang durian.

"Jadi mereka ini (terdakwa) datang ke saya. Dan saya ijinkan. Buat saja, silahkan. kau bisa buat tambak di sana. Lalu setelah selesai, saya didatangi lagi dan mereka lapor bahwa di sana ada tanaman durian. Llu saya bilang, bersihkan saja kalau di sana ada durian,"tambahnya.

Penebangan pohon durian ini menjadi muasal perkara. Namun, Kardi mengaku tidak tinggal diam. Setelah mengetahui persoalan tersebut Japaya berinisiatif memediasi agar kedua belah pihak berdamai.

Menurutnya, polisi turut mendamaikan namun tak berhasil. Upaya perdamaian yang dilakukan sudah dua kali. Dan orang tua pun pernah mendamaikan, apalagi pihak terdakwa katanya menunjukkan itikad baik.

"Setelah saya ketahui ini, saya suru anak saya mendatangi si Japaya. Lalu polisi pun mendamaikan, tapi si Japaya tidak mau,"ucapnya menjawab hakim.

Sesuai keterangan saksi, kuasa hukum para terdakwa, Boy Raja memastikan butuh pemeriksaan hukum yang objektif terkait kepemilikan pohon-pohon yang diklaim sebagi milik Japaya.

"Artinya harus ada pembuktian yang objektif atas kepemilikan itu. Karena untuk pembuktian itu dilakukan atas keterangan saksi yang tidak lain adalah anak dan istri Japaya saja. Sementara harus ada alat bukti yang menunjukkan bahwasanya itu adalah sah milik Japaya,"terang Boy.

Menurut Boy, lahan tersebut bukan milik Japaya maupun milik gereja. Sebab, bila memang benar itu adalah lahan gereja pihak gereja pasti keberatan ketika tugu/tambak dibangun di sana. Tanah tersebut sudah dihibahkan menjadi tanah wakaf  bagi warga Panamean oleh Kardi dan tidak diijinkan berladang atau bercocok tanam di areal itu.

Kata Boy, sejauh ini, mereka masih menunggu tuntutan dari majelis hakim pada sidang berikutnya.

Sumber: tribunnews.com

Editor: gun.