HETANEWS

Tak Ada 'Ongkos', Hakim PN Tebingtinggi Tolak Prapid Tangkapan BNN

Hakim tunggal, Albon Damanik saat membacakan putusan. (foto/ver)

Tebingtinggi, hetanews.com - Tampaknya kinerja Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Tebingtinggi kembali dipertanyakan dan diuji  masyarakat, pasca penangkapan warga atas dugaan keterlibatan narkoba.

Bahkan, pihak keluarga yang disebut sebagai tersangka atas nama Anwar alias Angek (39), warga Jalan Bangau, Kelurahan Bulian, Kecamatan Bajenis melalui kuasa hukum, Harmilasari beralamat di Jalan Merpati, Simpang Uyub, Kota Tebingtinggi, resmi melakukan permohonan praperadilan  yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi, pada 4 Desember 2017 lalu.

Namun, setelah melalui persidangan sangat alot di PN Tebingtinggi yang dipimpin  hakim tunggal, Albon Damanik, akhirnya Senin (18/12/2017) sekitar pukul 10.20 WIB, putusan majelis, mengkandaskan harapan seluruh keluarga dan tersangka untuk bebas murni alias ditolak. Dan tersangka Anwar tetap dilakukan rehab.

Usai persidangan,Yulili (33), selaku istri tersangka Anwar didampingi kuasa hukum, Harmilasari menuturkan, kemana pun ia tempuh untuk menambatkan keadilan, meski prapid mereka ditolak majelis hakim.

"Saya pribadi akan surati Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) di Jakarta lengkap dengan foto-foto pendukung," kata Yulili.

Yulili, istri tersangka Anwar. (foto/ver)

Diakui Yulili, sambil menanggis membeberkan, bahwa 2 hari sebelum putusan digelar, Sabtu kemarin, dirinya ada dihubungi oknum mengaku dari PN Tebingtinggi.

Dari pembicaraan itu, mereka mengatakan ada 'ongkos' senilai Rp 10 juta. "Kuakui, saya orang susah dan hanya sebagai pencuci baju dari mana uang," ungkapnya sedih.

Hal ini juga diamini oleh kuasa hukum Harmilasari yang menyebut dirinya, ada jumpa dan berkomunikasi melalui handphone (HP) seputar praperadilan yang ditanganinya atas nama Anwar kepada oknum yang sama.

Yulili membeberkan, bahwa suaminya (Anwar) ditangkap pihak BNNK Tebingtinggi. Ini setelah Ajo ditangkap dan ada barang bukti narkoba. Lalu Anwar juga ditangkap setelah itu Edyanto alias Ao.

Untuk  Ajo dan Ao dilakukan rehab setelah ditahan selama 6 hari di BNN Kota Tebingtinggi. Sementara Anwar  tidak. Baru setelah diterimanya pendaftaran praperadilan di PN Tebingtinggi dan diterimanya release dari PN Tebingtinggi, tanggal 5 Desember 2017, pihak BNNK Tebingtinggi baru melakukan rehab kepada Anwar.

Selanjutnya, beber Yulili pula, awalnya suaminya direhab ke Kota Lubuk Pakam, tepatnya di Balai Loka, namun ditolak sebut Yulili.

Selanjutnya, Anwar direhab ke Perkumpulan Peka, di Jalan Sei Petani Medan.

Surat prapid tersangka Anwar. (foto/ver)

Anehnya lagi, katanya, atas nama tersangka Si Ao atau Edyanto sudah dilakukan rehab. "Tapi saya saksikan sendiri Ao berada di rumahnya. Dan rumah kami berhadap-hadapan di Jalan Bangau," ujarnya.

Ao juga berfamili dengan bandar narkoba  besar Alvin Lehu asal Siantar dan sudah dihukum.

"Suamiku ditangkap BNNK Tebingtinggi pada Kamis, 26 Oktober 2017, di Jalan Sudirman. Kemanapun, aku coba meski susah untuk mendapatkan keadilan. Inilah karena aku orang susah tak ada 'ongkos' buat kasus suami, sehingga praperadilan ditolak hakim Albon Damanik,"tangis Yulili.

Penulis: ver. Editor: gun.