Siantar, hetanews.com - Perayaan Natal Raja Sonang se Dunia pada tanggal 9 Desember 2017 lalu menyisahkan cerita yang menarik dari pemain drama kolosal dan crew yang sudah bekerja keras dalam mensukseskan acara tersebut.

Bagaimana mana tidak, di saat isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sedang berkecamuk, mereka (pemain drama dan crew ) malah memberikan pelajaran yang sangat penting bagi seluruh masyarakat.

Beberapa pemain drama yang menceritakan kelahiran Yesus Kristus itu mengangkat kultur Budaya Batak yang sangat berbeda dari penampilan drama menggunakan kultur budaya dari negara dimana Yesus dilahirkan.

“Maria nya bule, Yusuf nya bule dan prajuritnya bule, tetapi kita tidak. Kita menampilkan budaya di Sumatera Ufara yaitu Budaya Batak dan saya sangat suka itu,” sebut Ketua Umum Panitia Natal Raja Sonang se Dunia, Mayjen (Purn) Sumiharjo Pakpahan ketika menjamu seluruh pemain drama dan crew di rumah pribadinya, Rabu (13/12/2017) malam.

Mayjen (Purn) Sumiharjo Pakpahan menyampaikan sambutannya didampingi putranya Suwanto Pakpahan dan pemeran Mari, Lia Siregar. (foto : Tommy)

Dalam pertemuan yang berlangsung dengan rasa kekeluargaan tersebut tampak hadir beberapa pemain drama yang menggunakan hijab. Dan hal ini menjadi sorotan dari Sumiharjo Pakpahan.

“Ini lah indahnya, tidak membeda-bedakan apa pun agama kita. Kita hanya ingin berkarya. Dan ini lah indahnya Natal Raja Sonang dengan keberagamannya, dan terima kasih kepada anak-anak ku, karena kalian mau membantu mensukseskan acara ini,” sebutnya kepada pemain drama beragama Muslim.

Sementara sang Sutradara, Bongsu Pakpahan berterima kasih kepada Sumiharjo Pakpahan karena mau memberikan ruang dan fasilitas kepada pemuda di Kota Siantar untuk berkarya.

Dirinya mengharapkan agar Sumiharjo Pakpahan mau membantu pemuda-pemudi Kota Siantar untuk menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dengan pemuda-pemudi di Jakarta atau kota lain, bahkan dunia.

Mayjen (Purn) Sumiharjo Pakpahan menyampaikan terima kasih pada para pemain dram dan crew.(foto : Tommy)

“Kota (Siantar) ini tidak butuh infrastruktur. Kota ini hanya butuh tempat dan fasilitas di mana kami akan menyalurkan kreatifitas. Kota ini belum memberikan itu kepada kami. Dan kami berterima kasih karena bapak memberikan kesempatan kepada kami untuk berkreatifitas. Kami harap ini tidak hanya selesai sampai disini,” ucap Bongsu.

Mendengar itu, Sumiharjo Pakpahan dan putranya Suwanto Pakpahan malah menantang Bongsu Pakpahan dan crewnya untuk menampilkan suatu acara opera setiap harinya dan mendirikan sanggar seni.

“Silahkan kalau mau dipakai rumah saya ini sebagai sanggar saya berikan. Bahkan ada di Tanah Jawa tempat saya, kalau itupun mau dipakai silahkan. Tetapi saya tantang kalian untuk menampilkan suatu opera dan memajukan daerah-daerah yang tertinggal dengan seni,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, Suwanto Pakpahan dan Bongsu Pakpahan sepakat untuk membuat sebuah yayasan dan akan siap menfasilitasi anak-anak muda untuk berkarya.

Para pemain drama dan crew. (foto : Tommy)

Malam itu suasana semakin penuh dengan keakraban, mana kala Sumiharjo Pakpahan dan anaknya Suwanto Pakpahan serta Letkol Tangkas Gultom bernyanyi serta berjoget bersama pemain drama dan crew.