Medan, hetanews.com - Ichsan Mahyudi (43), warga Jalan Purwosari, Gang Buntu, Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, menjadi korban pemukulan oknum pekerja proyek pengerjaan drainese Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan.

Peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 9 Desember 2017 ini, lantaran Ichsan, memprotes bangunan milik Kepala Lingkungan (Kelpling) Lingkungan X, Pulo Brayan Bengkel yang tidak ikut dibongkar.

"Bukan saya bermaksud menghalangi pembangunan, apalagi ini untuk kebaikan bersama. Tapi harus adil. Bangunan milik kepling bernama Marasati Aritonang, seharusnya juga ikut dibongkar," katanya,  Minggu (10/12/2017).

Ia menceritakan, awalnya para pekerja yang mengaku dari Dinas PU Kota Medan, datang ke Lingkungan X, Pulo Brayan Bengkel untuk melakukan pelebaran dan pembersihan drainase dan pembongkaran bangunan yang berada, di atas drainase.

Bangunan milik Kepling tidak dibongkar. (foto/zai)

Sejumlah alat berat diturunkan, seperti 1 unit beco/escavator, 5 unit truk dan ratusan pekerja. Hampir seluruh bangunan warga yang berada di atas drainase dibongkar, termasuk drainase di depan depot air isi ulang milik Ichsan.

Namun, sebelum dilakukan pembongkaran, Ichsan memprotes bangunan milik Kepala Lingkungan X yang tidak dibongkar. Para pekerja melewatkan pembongkaran bangunan milik kepling itu. Padahal, jaraknya ke  usaha depot air isi ulang miliknya sekitar 300 meter.

"Padahal drainase sebelah kiri dan kanan bangunan milik Kepling itu sudah dibongkar. Tapi bangunan milik kepling dilewatkan tanpa dibongkar. Jadi saya minta ke mereka, kalau mau bongkar dan bersihkan drainase depan bangunan saya, bongkar dulu bangunan kepling itu. Apalagi bangunan milik kepling persis di atas drainase," ujarnya.

Awalnya, protes korban diterima mandor proyek pengerjaan drainase tersebut. Namun, beberapa waktu kemudian, sejumlah pekerja kembali datang akan melaksanakan pembongkaran drainase di depan bangunan milik Ichsan.

"Alasan mereka tidak mau membongkar bangunan milik kepling karena kepling orang Pemko. Sebagai Kepling harusnya ikut memberi contoh. Saat ada pekerjaan ini saja, keplingnya tidak ada di tempat. Entah kemana," imbuh Icsan.

Sempat terjadi perdebatan dengan sejumlah pekerja tersebut. Saat sedang adu argumen itulah, tiba-tiba kepala Ichsan dipukul helm oleh seorang lelaki yang diduga sebagai pengawas lapangan.

"Mungkin dia tidak terima protes saya. Kepala saya dipukul pakai helm. Katanya orang yang mukul saya itu pengawas proyek. Orangnya hitam, badannya tinggi besar," ungkapnya.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut, dirinya langsung membuat laporan ke Polsek Medan Timur. Petugas kemudian mengarahkannya untuk membuat visum ke RS Pirngadi Medan.

"Saya menuntut keadilan, sampai bangunan milik kepling ikut dibongkar. Makanya saya ingin membawa masalah ini ke ranah hukum. Setelah membuat laporan ke Polek Medan Timur, saya langsung ke RSU Pirngadi untuk membuat visum. Senin besok saya diminta kembali ambil hasil visumnya," pungkasnya.