Aniaya Jurnalis, Prada Kiren Hanya Diganjar Enam Bulan Penjara

Prada Kiren Singh saat mengikuti persidangan. (foto/ardiansyah)

Medan, hetanews.com - Prajurit TNI AU Landasan Udara Soewondo Medan, Prada Kiren Singh, hanya dituntut enam bulan penjara.

Tuntun dibacakan Oditur Militer, Mayor Rio Panjaitan, dalam sidang lanjutan kasus penganiyaan jurnalis dengan korbannya Array A Argus, di Pengadilan Militer I-02 Medan.

Kiren, dinyatakan bersalah melakukan penganiayaan terhadap Array. Ia hanya dijerat dengan pasal 351 KUHPidana sebagaimana dakwaan Oditur militer. 

"Terdakwa melakukan penganiayaan terhadap jurnalis bernama Array dengan cara menendang. Tindakan itu dilakukan saat kericuhan sengketa lahan, di Sari Rejo Polonia, pada 15 Agustus 2016 silam," kata Rio, di hadapan Ketua Majelis Hakim, Letnan Kolonel Chairul, Kamis (7/12/2017).

Rio menyatakan, tindakan kekerasan yang dilakukan Kiren juga diakuinya saat persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Sehingga, katanya, Kiren dihukum dengan enam bulan penjara.

Mendengar tuntutan oditur, penasehat hukum Kiren,  membacakan pledoinya di hadapan hakim.

Dalam pembelaannya, Kiren beralasan tindakan kekerasan dilakukan karena dirinya bertugas dan menjalankan perintah untuk mengamankan situasi kerusuhan, di Sari Rejo antara TNI AU dengan warga.

Majelis hakim yang mendengar pembelaan menunda sidang. Rencananya, sidang putusan akan digelar pada Senin, 11 Desember 2017.

"Sudah kamu dengar tuntutannya. Kamu dituntut enam bulan penjara,"sebut hakim.

Menjawab pertanyaan itu, Kiren hanya mengangguk. Ia mengaku menyerahkan sepenuhnya langkah hukum tersebut pada pengacaranya.

Ketua Divisi Jaringan LBH Medan, Aidil A Aditya, selaku penasehat hukum, Array, menyayangkan tuntutan yang dianggap ringan tersebut.

Seharusnya, Oditur Militer juga turut menjerat terdakawa Kiren dengan pasal 170 KUHPidana.

"Penganiayaan yang dilakukan Kiren dan (Pratu) Rommel dilakukan  secara bersama-sama. Kenapa tidak dijerat pasal 170-nya. Kenapa juga berkas kasus ini harus dipisah," ungkap Aidil.

Aidil mengatakan, seharusnya Oditur Militer dapat jeli untuk melihat kasus ini. Sebab, dalam proses persidangan kedua terdakwa mengaku bahwa penganiayaan terhadap Array dilakukan secara bersama-sama, sehingga korban sempat mengalami luka-luka.

"Harusnya baik Kiren dan Rommel dituntut dengan hukuman yang setimpal. Peristiwa penganiayaan ini jelas dilakukan secara bersama-sama," jelas Aidil.

Ia berharap, majelis hakim yang menyidangkan perkara ini nantinya memberikan hukuman setimpal terhadap Kiren. Selain itu, sidang ini juga benar-benar memberikan putusan yang adil bagi korban.

Selama persidangan, Kiren dan temannya Rommel, mengaku sama-sama menganiaya Array saat korban melakukan peliputan di Sari Rejo, Medan Polonia, pada 15 Agustus 2016 silam.

Ketika Kiren diminta memberikan keterangan, penganiayaan  dilakukannya karena alasan emosi. Ia menendang Array di bagian perutnya. Namun menurut korban,  Kiren juga memukul bagian rahang kanan Array.

Penulis: Ardiansyah. Editor: gun.