Mantan Presiden Yaman Tewas Dibunuh, Indonesia Diminta Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina

Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh

Palestina, hetanews.com - Kabar duka datang dari Yaman. Setelah sempat simpang siur akhirnya berita tentang tewasnya Mantan Presiden Ali Abdullah Saleh telah dikonfirmasi. Veteran yang berkuasa dari 1990 sampai 2012 itu diketahui tewas dibunuh karena telah berkhianat dengan meninggalkan kelompok Houthi untuk bergabung dengan pihak koalisi pimpinan Arab Saudi.

Sementara itu, pergolakan lain terjadi antara Israel dan Palestina. Dua negara yang telah lama terlibat konflik itu kini harus memperebutkan Yerusalem sebagai Ibu Kota negara masing-masing. Atas hal tersebut, Duta Besar (Dubes) Terpilih Palestina untuk Indonesia Zuhair al-Shun mendesak peningkatan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

Sumber dari Kongres Rakyat Umum Yaman mengonfirmasi bahwa pemimpin mereka yang juga mantan presiden Ali Abdullah Saleh tewas pada Senin, 4 Desember dalam bentrokan sengit dengan pemberontak Houthi di Ibu Kota Sanaa. Saleh dilaporkan dibunuh dengan puluhan tembakan di kepala dan perut.

Malam sebelum pembunuhan, Saleh secara resmi mengumumkan pembubaran kemitraannya dengan milisi Houthi. Kedua pihak sebelumnya bersekutu melawan pemerintah Presiden Yaman, Abd Rabbo Mansour Hadi yang dibela koalisi Teluk pimpinan Arab Saudi. Persekutuan antara Saleh dan Houthi berakhir akibat perebutan pengaruh di wilayah yang mereka kuasai bersama, termasuk ibu Kota Sanaa.

Perseteruan itu berkembang menjadi pertempuran terbuka antara pasukan loyalis Saleh dengan milisi Houthi pada 29 November. 3 lahir pada Maret 1942 di Kota Bayt al Ahmar, di Distrik Sanhan, Kerajaan Yaman. Tanpa memiliki pendidikan yang tinggi, Saleh bergabung dengan militer dan menghabiskan awal kariernya di sana.

Dia turut bertempur di pihak pemerintah republik menghadapi sisa-sisa kerajaan yang didukung Arab Saudi pada Perang Sipil Yaman Utara dari 1962 sampai 1970. Kini Ali Abdullah Saleh tewas dengan tragis di usianya yang menginjak 75 tahun.

Beralih ke konflik Palestina dan Israel. Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana mengakui Yerusalem atau Al Aqsha sebagai ibu kota Israel yang tentunya memicu kekhawatiran dari pihak Palestina. Atas hal tersebut, Dubes Palestina untuk Indonesia, Zuhair al-Shun meminta dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Salah satunya dengan mengakui Yerusalem timur sebagai ibu kota masa depan Palestina. Desakan diplomat utusan Presiden Mahmoud Abbas itu disampaikan saat memberikan pidato sambutan di sebuah seminar tentang Palestina yang digelar Kementerian Luar Negeri Indonesia, Selasa, 5 Desember. Menurutnya, Indonesia sebagai saudara Palestina harus terus memberikan dukungan terhadap perdamaian, dan kemerdekaan negaranya.

Sementara itu, senada dengan permintaan dukungan dari Palestina, pengamat politik internasional, Arya Sandhiyudha juga menilai bahwa Indonesia seharusnya tak mendukung rencana AS yang akan mengakui Yerusalem sebagai bagian dari Israel. Pasalnya hal ini dinilai akan maka berpengaruh dengan usaha Indonesia dalam upaya kemerdekaan Palestina.

Direktur Eksekutif MaCDIS ini juga menyatakan bahwa langkah AS dalam mendukung Yerusalem menjadi ibu kota Israel dinilai akan merusak semua upaya perdamaian dan memicu ketegangan serta konflik baru.

 

 

 

 

 

sumber : okezone.com

Penulis: -. Editor: Sella.