Simalungun, hetanews.com - Kapolsek Silau Kahean AKP Hasmarullah bersama anggotanya Aiptu Ganda Sinaga, Bripka Dodi Saragih dan Bripka Horas Simanjuntak, mendamaikan warga yang terlibat permasalahan akibat adanya tuduhan melakukan guna-guna atau ilmu santet, Selasa (28/11/2017).

Hasmarullah melalui Bripka Dodi Saragih yang merupakan personil Bhabinkamtibmas Polsek Silau Kahean menjelaskan, tuduhan itu berawal pada hari Senin (20/11/2017) pukul 21.00 WIB.

Saat itu seorang perempuan bernama Wani boru Sinaga(23), warga Dusun Dolok Satus Nagori Mariah Buttu, Kecamatan Silau Kahean mendatangi rumah Kempo Purba (selaku orang pintar) dengan kondis tidak sadar diri atau kesurupan.

Wani mengatakan "Ada yang buat aku sakit. Orangnya Rumahnya di Dolok Sarutus anaknya 3”.

Kemudian Kamis (23/11/2017) sekira pukul 16.00 WIB, Sudiaman Sinaga (49) yang merupakan Pangulu Nagori Mariah Buttu menemui Kempo untuk memperjelas informasi tersebut.

Ternyata Kempo mengatakan, bahwa Sudiaman yang telah membuat Wani sakit dengan guna-guna. Ini sesuai dengan kalimat yang diucapkan Wani ketika berobat kepada Kempo.

Surat perjanjian damai yang disepakati terkait adanya isu santet di Nagori Mariah Buttu.

Ternyata ucapan Kempo itu terdengar warga, sehingga Sudiaman merasa nama baiknya rusak. Akibat fitnah itu, Sudiaman memohon pada pihak Polsek Silau Kahean untuk membantu menyelesaikannya.

Mendapat keluhan warga, pihak Polsek Silau Kahean bersama Maujana Nagori Mariah Buttu, Sekdes Risman Purba dan Pdt GKPS Ria Verawati boru Malau mempertemukan Sudiaman dengan Kempo dan Wani di Kantor Pangulu untuk mencari solusi agar permasalahan dapat segera diselesaikan.

"Dari hasil pertemuan, pihak yang terlibat permasalahan tersebut sepakat berdamai dengan permintaan maaf dari pihak Kempo dan Wani pada Sudiaman ditandai dengan surat perdamaian," sebut Dodi.

Menurutnya, upaya yang dilakukan Polsek Silau Kahean itu merupakan tindakan Kepolisian dalam mencegah tindak pidana dan mencegah terjadinya konflik sosial. 

Di mana problem solving merupakan bingkai deteksi dan antisipasi dini melalui kegiatan mediasi atau pertemuan antara berbagai pihak yang terlibat dalam suatu permasalahan. Sehingga dapat ditemukan akar masalah dan berusaha memecahkan solusi terbaik demi kebaikan bersama yang dilaksanakan secara terpadu dengan mengoptimalkan prinsip kearifan lokal.