Oleh: Jalatua Hasugian

Sudah sejak lama banyak masyarakat Kota Pematangsiantar dan Simalungun meyakini adanya sebuah terowongan bawah tanah yang konon menghubungkan Siantar Hotel, Pagoda (Taman Bunga) Balai Kota dan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Bahkan ada kabar yang mengatakan jika terowongan tersebut juga menghubungkan Siantar Hotel dengan Pabrik Es di Pematang (bekas Kompleks Istana Kerajaan Siantar).

Anggapan ini agaknya dikait-kaitkan, mengingat keberadaan Pabrik Es dan Siantar Hotel yang dibangun sekitar tahun 1913 punya hubungan sejarah. 

Uniknya, keberadaan terowongan yang masih ‘misterius’ hingga sekarang kerap menjadi perdebatan banyak kalangan. Terutama jika membahas tentang era kolonial Belanda dan masa penguasaan Jepang sampai masa perang kemerdekaan.

Apalagi, di sekitar Siantar Hotel memang pernah terjadi konflik bersenjata antara pemuda rakyat dengan tentara NICA. Meski sebatas narasi oral dari berbagai pihak yang sama-sama tak pernah melihat langsung dimana sebenarnya terowongan misterius itu berada, tetap saja ceritanya menarik banyak orang untuk terus memperbincangkannya. Seolah, terowongan itu benar adanya dan pernah banyak orang yang melihatnya.   

Pemerintah Kota Pematangsiantar sendiri sebenarnya tidak tinggal diam merespon banyaknya informasi yang berkembang seputar terowongan tersebut. Melalui Kantor Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2003, mereka pernah melakukan penelusuran.

Kegiatan ini merupakan upaya memverifikasi kemungkinan benar tidaknya terowongan bawah tanah yang menghubungkan Siantar Hotel dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. 

Proyek yang dikerjakan dengan menggandeng PT Delta Sesar asal  Medan ini berjudul: “Studi Kelayakan Penelusuran Terowongan Siantar Hotel, Jenis dan Potensi Pariwisata di Kota Pematangsiantar Serta Kemungkinan Pengembangannya”.

Memang proyek ini tidak secara khusus dan melulu menelusuri keberadaan terowongan yang selama ini jadi perbincangan masyarakat. Meski begitu, proyek ini sangat penting dalam rangka memastikan keberadaan terowongan yang sejak lama disebut-sebut, namun belum pernah ada yang menyaksikan langsung di mana persis keberadaannya. 

Jika memang benar adanya dan memungkinkan direstorasi serta dikembangkan, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi destinasi wisata historis di Kota Pematangsiantar. 

Apalagi, kawasan pusat kota yang berhawa sejuk ini memang punya andil besar di era kolonial Belanda dan Jepang, sehingga sangat layak dijadikan sebagai heritage. Dampaknya tentu saja sangat mendukung terhadap edukasi sejarah pada generasi muda. 

Selain menelusuri keberadaan terowongan, proyek yang mewawancarai sejumlah pihak ini pada intinya juga dimaksudkan untuk menelusuri berbagai potensi pariwisata lainnya.

Melalui penelusuran ini, kawasan-kawasan objek wisata potensial bisa dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan. Apalagi jika industri pariwisata berkembang pesat, tentu akan memberi berdampak ikutan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, setidaknya warga sekitar objek wisata berada.

Dari hasil penelusuran tim ke seputaran Balai Kota, Lapangan Merdeka (Taman Bunga), Pabrik Es, hingga melihat langsung sistem drainase di lingkungan Siantar Hotel ternyata tidak ditemukan bukti yang akurat mengenai keberadaan jalan tembus/terowoangan.

Di lingkungan Siantar Hotel hanya dijumpai cave (ruang bawah tanah) yang letaknya di bagian baratlaut bangunan utama. (Laporan Akhir, Desember 2003, hal 31). Ruangan bawah tanah Siantar Hotel yang diteliti ternyata hanya merupakan tempat untuk menyimpan minuman jenis anggur dan sebagainya. 

Dalam bagian kesimpulan laporan tersebut juga ditegaskan bahwa terowongan yang kerap didengungkan oleh banyak kalangan masyarakat Kota Pematangsiantar ternyata keberadaannya tidak terbukti karena yang ada hanya cave.

Hal ini diperkuat juga dengan informasi yang dihimpun selama ini menunjukkan bahwa selain cerita dari mulut ke mulut, tidak satu pun anggota masyarakat yang mengetahui secara langsung keberadaan terowongan tersebut. (idem, hal 70). 

Butuh Penelitian Arkeologi

Kita mengapresiasi kebijakan Pemko Pematangsiantar yang telah merespon persepsi masyarakat dengan melakukan penelitian.

Namun agaknya masih perlu dilakukan penelitian lanjutan yang lebih intensif serta melibatkan para pakar di bidang arkeologi. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Kantor Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Dinas Pariwisata) bersama PT Delta Sesar tentu sangat membantu penelitian lanjutan yang lebih spesifik.

Jika hal ini bisa dilakukan, tentu hasilnya kelak bisa jadi referensi ilmiah bagi sejarah perkembangan Kota Pematangsiantar.

Selain itu yang cukup penting adalah memberikan kepastian bagi masyarakat dan generasi berikut, sehingga ceritanya tidak lagi jadi ‘dongeng’ pengantar tidur. Artinya, penelitian lanjutan ini penting dilakukan agar informasi yang simpang siur selama ini tentang keberadaan terowongan misterius tersebut bisa terjawab secara ilmiah. 

Apalagi keberadaan terowongan ini kerap dihubung-hubungkan dengan Peristiwa Siantar Hotel Berdarah yang terjadi pada masa revolusi kemerdekaan, tepatnya 15 Oktober 1945.

Sebab ada informasi yang menyebutkan bahwa pasca kemerdekaan Indonesia, dan disusul dengan masuknya tentara Sekutu yang membonceng tentara NICA, pasukan Jepang yang tadinya bermarkas di Siantar Hotel sempat bersembunyi di dalam terowongan tersebut?

Namun hingga sekarang informasi ini pun sulit diverifikasi mengingat belum ada ditemukan dokumen yang mendukung keberadaan terowongan tersebut.

Penelusuran yang dilakukan pada tahun 2003 belum bisa menjawab seutuhnya keraguan masyarakat akan kebenaran terowongan tersebut. Oleh karena itu, kita juga tidak persis tahu apakah terowongan tersebut ‘dibangun’ pada era kolonial Belanda atau sesudah masuknya tentara Jepang. 

Hal yang paling unik dan menarik adalah, siapa awalnya yang ‘mengarang’ cerita tersebut pertama sekali, serta dasar apa dia membuat cerita tersebut?

Logikanya, tentu orang yang menyebarkan cerita itu pertama kali punya  latar belakang da tujuan tertentu. Artinya, pasti ada dasar yang menjadi alasan, mengapa cerita tentang keberadaan terowongan itu bisa ada dan uniknya masih dipercaya masyarakat sampai sekarang.

Kalau pun terowongan itu tidak pernah ada sebagaimana hasil penelusuran Pemko Pematangsiantar, tetapi tampaknya masyarakat masih belum yakin.    

Karena itulah, penjajakan lanjutan dengan pendekatan arkeologis penting dilakukan. Sebab sebagai ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia pada masa lalu, tidak sulit bagi seorang Arkeolog untuk menemukan sisa-sisa terowongan jika memang benar pernah ada.

Jangankan sisa peninggalan zaman Belanda atau Jepang, peninggalan manusia purba sekalipun bisa ditelusuri dengan pendekatan arkeologi. Karena selain metode survey, teknik penelitian arkeologis yang menggunakan sistem penggalian tanah atau bebatuan, diyakini bisa mendapatkan hasil maksimal secara ilmiah. 

Begitu pun, kita berharap kepada siapa saja yang benar-benar memiliki dokumen atau foto lawas tentang keberadaan terowongan tersebut bisa membaginya kepada kita.

Sebab penulis pernah mencoba menelusurinya di Perpustakaan Pemko Pematangsiantar, Museum Sumatera Utara di Medan, bahkan sampai ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta belum berhasil menemukannya. Jika tidak ada yang menyimpannya, tentu jalan keluarnya adalah penelitian arkeologis. Semoga saja suatu saat ada kejelasan tentang keberadaan terowongan misterius tersebut. (Penulis, Dosen FKIP Universitas Simalungun)