HETANEWS

Pangulu 'Mesum' Kembali Menang di Pilpanag, Siapa Yang Bersalah?

Simalungun, hetanews.com- Berakhirnya tahapan Pemilihan Kepala Nagori (Pilpanag) salah satu Nagori di Kecamatan Sidamanik pada pekan lalu, menyisahkan sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat Nagori Kebun Sayur.

Kemenangan yang diraih calon incumbent, pertanda masih kuatnya dominasi bersangkutan. Atau mungkin kepercayaan warga yang masih menaruh harapan besar kepada sosok Pangulu Incumbent.

Kendatipun rekam jejak incumbent dinilai kurang baik, namun faktanya masyarakat masih memilih Calon Incumbent.

Ironisnya, justru mendapat suara terbanyak dari pesaing lainnya. Muncul sebuah pertanyaan dari hasil akhir Pilpanag di Nagori Kebun Sayur. Mengapa masyarakat masih memilih incumbent, meskipun warga telah mengetahui rekam jejak Calon Pangulu terpilih ini?

Hal itulah yang terjadi di Nagori Kebun Sayur, keanehan jelas tampak dari hasil rekapitulasi suara yang kembali di menangkan sosok incumbent J Damanik dengan nomor urut 2. Padahal diketahui sebelumnya, J Damanik telah terbukti melakukan tindakan asusila yang mencoreng nama baik nagori.

Kemenangan J Damanik, menyisahkan sesal pria berinisial A. Menurutnya, hasil Pilpanag Nagori Kebun Sayur merupakan parameter rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilih sosok pemimpin sesuai rekam jejak.

Masih kata A, ia tidak menduga sebelumnya masyarakat masih memberikan kepercayaan kepada J Damanik yang jelas-jelas telah meninggalkan catatan buruk di masa lalu.

"Saya benar-benar enggak habis pikir sama masyarakat disini. Apa mereka tidak melihat, mendengar, ataupun memikirkan cerita buruk masa lalu yang dilakukan J Damanik. Apa ini yang disebut tanda-tanda akhir jaman," tuturnya dengan nada kesal, Jumat (27/10/2017).

Sebelumnya, J Damanik menang dalam Pilpanag Nagori Kebun Sayur dengan mengumpulkan 202 suara dari 597 Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Menanggapi hal ini, salah satu aktivis mahasiswa yang enggan dicantumkan namanya, mengkritik keras masyarakat Nagori Kebun Sayur. Menurutnya, hak pilih yang diamanahkan Undang-Undang (UU) kepada masyarakat, bukan berarti dijadikan ajang permainan.

Lanjutnya, pemilih yang cerdas ialah mereka yang benar-benar menggunakan hati nurani serta logika sehat, dan tidak mencampurkan kepentingan pribadi di dalamnya.

"Ini jelas-jelas kesalahan fatal, bagaimana mungkin seorang oknum Pangulu mesum bisa terpilih kembali. Kesalahan jelas terletak pada masyarakatnya sendiri, sudah tau mesum kenapa masih dipilih. Yang bodoh masyarakatnya atau Langulu terpilih," tandasnya.

Mirisnya, Nagori Kebun Sayur yang juga dikenal sebagai salah satu afdeling di Perkebunan Nusantara IV Bah Butong, dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Nyatanya tidak demikian adanya.

Parahnya, banyak para sarjana perguruan tinggi di nagori ini yang kemudian mengajar sebagai guru di sekolah swasta milik yayasan perkebunan, namun tidak menunjukkan perannya terhadap kemajuan generasi serta ikut mencerdaskan masyarakat.

Penulis: tim. Editor: aan.