HETANEWS

Kenaikan Tarif Cukai Rokok Disisihkan untuk Bidang Kesehatan

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menegaskan kebijakan kenaikan cukai rokok 10,04 persen telah mempertimbangkan rencana penyisihan dana untuk bidang kesehatan

Jakarta, hetanews.com - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menegaskan kebijakan kenaikan cukai rokok sebesar 10,04 persen pada tahun depan telah mempertimbangkan rencana penyisihan anggaran cukai untuk bidang kesehatan.

Iya (sudah masuk untuk kesehatan), ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi, Rabu (25/10).

Sayang, Heru enggan mengelaborasi lebih lanjut terkait besaran alokasi penerimaan cukai yang bisa diberikan untuk sektor kesehatan tersebut. Sebab, hal ini harus menunggu penetapan besaran kenaikan cukai yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK). 

Sebelumnya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengatakan bahwa pihaknya tengah mengkaji sumber pendanaan baru bagi lembaga peralihan PT Asuransi Kesehatan (Askes) itu. 
Salah satunya dari penerimaan cukai industri hasil tembakau. Hal ini sebagai kompensasi bagi perokok terhadap program kesehatan.

Namun, kajian itu masih dibahas lebih lanjut di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), dan ditargetkan berlaku mulai tahun depan.

Kendati begitu, Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) melihat, pemerintah seharusnya bisa menaikkan harga rokok lebih dari kisaran 10 persen untuk mendapatkan dampak yang lebih besar. Baik dari sisi penerimaan negara hingga sumbangan ke sektor kesehatan. 

Peneliti Pusat PKEKK FKMUI Rahma Indira mengatakan, berdasarkan hitung-hitungan PKEKK FKMUI seharusnya kenaikan cukai rokok bisa mencapai batas maksimal yakni 57 persen, sesuai bunyi Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Sayangnya pemerintah tak dapat menaikkan tarif cukai lebih dari 57 persen.

Dia berpendapat, seharusnya aturan ini bisa diamandemenkan, sehingga pemerintah bisa mengerek tarif cukai rokok lebih tinggi dan memperoleh manfaat ke penerimaan dan sektor kesehatan yang lebih besar. 

Bahkan, PKEKK FKMUI mengasumsikan, kenaikan cukai rokok seharusnya bisa mencapai 113 persen sehingga akan memberi dampak yang signifikan. 

Dia menggambarkan, penurunan konsumsi rokok per kapita per bulan sebesar 0,53 persen, penurunan prevalensi merokok sebesar 1,33 persen, penerimaan cukai rokok naik 112,6 persen, dan angka kemiskinan turun menjadi 11,2 persen.

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.