Simalungun, hetanews.com - Kehidupan sosial menjadi sebuah problematika yang tidak pernah habis habisanya untuk dibahas. Kemerosotan ekonomi, serta tingginya harga bahan kebutuhan sehari hari tidak lepas menjerat kehidupan sosial masyarakat. 

Di Kabupaten Simalungun, tidak sedikit masyarakat merasakan hal yang sama. Misalnya, meningkatnya harga bahan pokok kebutuhan sehari hari menjadi momok yang menakutkan. Untuk memenuhi kebutuhan pokok itupun, berbagai cara dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran yang semakin bertambah. 

Jumat (13/10/2017) sore seorang pria mengusung sepeda motor bermuatan box ngetem di depan  sebuah warung di Jalan jurusan Siantar-Sidamanik, Nagori Baliran, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Pria itu turun seraya menyapa seorang ibu yang mendekatinya. 

Pria tadi membuka box (kotak) yang diikat diatas jok sepeda motornya. Di dalamnya berisi puluhan kilogram kepala ikan yang sudah dibelah, dicampur dengan bongkahan es sebagai pengawet. "Mau dibuat berapa kilo kak?," ujar pria. "Buat sekilo saja," jawab si ibu yang mengenakan kerudung itu.

Kepala-kepala ikan itu dinamai 'Gandrong' oleh penduduk sekitar. Gandrong itu bagian dari tubuh Ikan Nila Super yang khusus dijual hanya bagian kepala saja. Sedangkan bagian tubuh lainya seperti daging dan ekor tidak disertakan. Gandrong dijual seharga Rp 13 ribu per kilo oleh pengecer. Sedangkan pengecer mengambil gandrong dari perusaan pengalengan ikan PT Japfa. 


Gandrong siap edar disimpan dalam box/kotak. Kotak itu diikat di jok sepeda motor dan dijajakan secara berkeliling.

"Kalau sehari dari pagi ke siang terjual 30 kilogram. Kalau siang ke sore begini, aku ambil lagi bawa 35 kilogram lagi. Jadi kalau sehari 65 kilogram lah. Untung, bisa lepas-lepas makan sama rokok," ujar pria si Pengecer Gandrong.

Dia menjelaskan, kalau sehari saja penjualan Gandrong itu bisa menghasilkan keuntungan. Meski harus keliling menelusuri Dusun-Dusun terpencil di Kabupaten Simalungun. "Peminatnya orang-orang yang di kampunglah. Kalau di kota jarang," imbuhnya.

Kadang, ada pula warga meminta pesanan Ikan Nila yang utuh lengkap bagian daging dan ekor serta kepala. Untuk pesanan seperti itu, harganya lebih mahal, bisa sampai Rp 33-35 ribu per kilogramnya.

"Zaman sekarang, orang-orang banyak beli Gandrong karena lebih murah. Kalau ikan gak terbeli lagi sekarang. Harganya lebih mahal," ujar ibu 2 orang anak itu.

Gandrong dijadikan lauk untuk makan sehari-hari oleh sebagian ibu-ibu rumah tangga. Diolah dengan bumbu masak dengan berbagai rasa. Disambal, asam manis atau digulai.

Gandrong yang sudah diolah sebagai lauk untuk dimakan.

"Kalau makan Gandrong kebanyakan durinya dari pada daging. Jadi kebanyakan anak anak di rumah makan durilah bukan daging. Cemana mau beli ikan harganya mahal," ketus ibu yang bermukim di Baliran itu.

Gandrong, Kepala Ikan Nila Super adalah hasil sortiran untuk ikan kaleng. Bagian tubuh yang terpenting seperti dagingnya dikemas menjadi ikan kaleng untuk dieksport keluar maupun dalam negeri. Bagian tubuh lainya (ikan) kembali diperjual belikan, semisal bagian kepala.

Itulah Gandrong yang dikonsumsi sebagian Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di Kabupaten Simalungun karena mahalnya harga ikan sebagai sumber protein hewani.