HETANEWS

PT GAL “Kejam”, Rampas Hak Masyarakat Bertahun-tahun

PT Global Agung Lestari.(foto/beni roska)

Kuala Kapuas, hetanews.com  - Terjadi konflik antara perusahaan PT Global Agung Lestari (GAL) dengan masyarakat Desa Lamunti B5, Kecamatan Dadahub, Kabupaten Kapuas.

Berdasarkan informasi, pihak perusahaan mengancam warga dan akan mendatangi warga ke Desa Lamunti B5,  karena  warga hendak melakukan panen paksa dilahan milik mereka masing – masing.

Berdasarkan informasi yang disampaikan salah satu warga, Nijar (60), konflik sudah terjadi cukup lama, dari perjanjian hutan plasma. 

"Saya tidak mau mengajak konflik, saya mengajak damai dan ini ada bukti notulennya, yang mana pada waktu dulu dimonitoring oleh pak Subagio, selaku perwakilan dari pihak perusahaan, PT GAL, “ungkap Nijar kepada hetanews, kemarin. 

Masih kata Nijar, dirinya meminta pihak perusahaan, menjelaskan sistem pembagian hasil plasma bagaimana dan sistem hutang yang bagaimana. "Lalu setelah saya pertanyakan, seperti itu, jawabannya menunggu penjelasan dari atasan dan menunggu dirinya melapor ke atasan," sambung Nijar.

Tapi, kata Nijar, sampai sekarang tidak ada penjelasan dari pihak perusahaan. Hanya janji dan dusta belaka. Hingga Subagio digantikan oleh Jefri sebagai perwakilan dari pihak perusahaan PT GAL, katanya.

Dibawah Jefri, kata Nijar, pelakuan kepada masyarakat sangat tajam dan keras. "Sebelumnya pada tanggal 4 Agustus 2017 kemarin, terjadi pertemuan yang dihadiri pihak perusahaan, Camat serta Kapolsek. Pada waktu itu, pihak perusahaan tidak ada memberikan penjelasan satu pun, dan kami memberikan tenggang waktu 2 minggu, tepatnya pada tanggal 18 Agustus," sambungnya.

Kawasan PT Global Agung Lestari.(foto/beni roska)

Dan pada tanggal 18 Agustus, terjawab sudah, dan hasilnya sambung Nijar, warga akan melakukan panen sendiri-sendiri. 

"Selain itu, dalam pertemuan tersebut, hasilnya, kami akan melakukan panen, dan kami sudah memberikan peringatan dan tidak ada tanggapan dari perusahaan,"terangnya.

Namun, pihak perusahaan PT GAL  sempat melakukan kekerasan dan premanisme terhadapnya. "4 truk yang saya bawa dihalang di G1 yang langsung dipimpin oleh Jefri. Bukan hanya menghalangi, itu namanya sudah premanisme, membawa senjata tajam dan benda keras. Waktu itu saya gak ada perlawanan, saya mundur,"kata Nijar. 

Dan kemarin, kata Nijar, Jefri sempat mengancam dirinya dan mengatakan warga B5 akan diselesaikan semua.  "Makanya saya mengajak warga pada hari ini untuk melakukan persiapan, bukannya melakukan perlawanan akan tetapi untuk mengimbangi jikalau pihak perusahaan melakukan dengan kekerasan,"katanya.

Namun, berdasarkan informasi, pihak perusahaan tidak jadi ke Lamunti B5 akan tetapi menuju Lamunti B6.

Selain itu, katanya, dalam pertemuan di B5 waktu itu, juga ada menyangkut masalah relokasi lahan. Disini sudah ada kesepakatan batalkan relokasi tersebut, dan ada bukti notulennya. "Yang dibatalkan oleh masyarakat tersebut, yakni tanah bersertifikat milik masyarakat jangan untuk kebun inti, dan ternyata untuk kebun inti, ini ada notulennya," katanya.

Jadi pada intinya, kata Nijar, dirinya bersama masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan pihak Perusahaan dan Koperasi. "Kami akan panen sendiri lahan kami, kami jual keluar hasilnya. Dan  kami menuntut agar pihak perusahaan mengembalikan serifikat milik kami,"tegas Nijar.

Ditempat yang sama, Supri, selaku anggota plasma mengatakan, pada perjanjian plasma, pihak perusahaan mengiming-imingi pembagian hasil yang sangat menggiurkan, sehingga dirinya dan masyarakat sekitar mau menyerahkan sertifikat tanah. "Tapi kenyataannya tidak sesuai, yang kami dapatkan pembagiannya sangat sedikit dan parahnya lagi, itu katanya pinjaman,"katanya.

Oleh karena itu, kata Supri, dirinya saat ini tidak percaya lagi dengan pihak perusahaan.

Penulis: tim. Editor: gun.