HETANEWS

Psikolog Ungkap Alasan Orang Bertahan di Grup Whatsapp

Ada banyak alasan mengapa orang sih tetap bertahan di grup WhatsApp sekalipun tak lagi cocok dengan obrolannya

Jakarta, hetanews.com - Whatsapp akhirnya dibunuh pemerintah China. Sebelumnya, pemerintah China hanya memblokir sebagian fitur Whatsapp, tapi kini aplikasi milik Facebook ini tak bernyawa lagi.

Hal ini dilakukan pemerintah China demi memperketat pengawasan terhadap aplikasi yang beredar di negaranya. Jika Whatsapp diblokir, otomatis pengguna tak bisa lagi berkirim pesan, foto, dan video, apalagi ngobrol di grup yang jadi fitur andalan Whatsapp. 

Tak dimungkiri, grup chatting ini  biasa dibentuk karena alasan pekerjaan, kesamaan hobi atau kegiatan, atau grup alumni sekolah demi memudahkan komunikasi. 

Namun, grup ini tidak mengikat penggunanya. Anggota bebas memutuskan untuk keluar jika dirasa grup tidak sesuai lagi dengannya.

Namun, seringkali hanya karena perasaan tak enak atau tak ingin dicap sombong, seseorang enggan keluar dari grup percakapan. Alih-alih keluar dari grup, mereka memilih untuk tetap bertahan di grup walau hanya jadi silent reader atau tukang menyimak obrolan tanpa terlibat memberikan suara.

Jika tak sesuai lagi, mengapa orang masih bertahan dalam suatu grup Whatsapp? Dosen psikologi siber dan sosial di Nottingham Trent University, Sarah Buglass mengatakan, kemungkinan mereka mengalami suatu tekanan fear of missing out atau fomo. Rasa takut ditinggalkan, dilupakan dan tidak tahu informasi yang beredar di kalangan teman-temannya.

Bergabung di grup Whatsapp seperti pisau bermata dua. Ketika seorang berada dalam grup dapat menimbulkan rasa memiliki grup dan suatu dorongan positif bagi seseorang karena merasa dirinya berharga.

Namun, berada di dalam grup juga bisa menggoyahkan kepercayaan diri anggotanya, meningkatkan kecemasan sosial dan bahkan memicu kecanduan terhadap media sosial.

Aplikasi ponsel pintar seperti Whatsapp masuk ke dalam kebutuhan psikologis kita untuk dimiliki secara sosial," kata Buglass dikutip dari The Independent.

Buglass menjelaskan, bagi mereka yang meninggalkan grup kadang berkata 'Saya tidak ingin terlibat', tapi biasanya ini berbeda dari kenyataannya.

Mereka masih tergabung di grup untuk mendapatkan link atau jaringan. Selain itu, mereka juga merasa nyaman berada dalam grup karena dapat melakukan social surveillance atau pengawasan sosial.

Memutus diri dari grup digital, juga menimbulkan risiko memutus diri dari grup offline dan semua interaksi ke depannya, tambah Buglass.

Keluar dari grup, lanjutnya, artinya ia akan kehilangan informasi yang yang mungkin diperlukan untuk interaksi di waktu mendatang, contohnya grup membicarakan konser One Ok Rock di Singapura.

Saat berkumpul untuk 'kopi darat' membicarakan harga tiket dan rencana menonton di Singapura, mungkin mantan anggota grup Whatsapp tak begitu tahu akan hal ini.

Bergabung di grup juga membantu anggota untuk memonitor diskusi yang terjadi. Dalam grup, selalu ada potensi untuk bergosip dan membicarakan orang lain di luar anggota grup.

Masuk ke dalam grup artinya anggota menutup kemungkinan untuk jadi bahan gosip dan rumor. Tetap berada dalam grup bisa jadi tameng potensial untuk melawan reaksi negatif public.

sumber: cnninndonesia.com

Editor: sella.