Oleh: Ketua PMS Kota Medan, Letkol Inf JSM Damanik S.Sos                                                              

Perkembangan setiap negara di dunia selalu identik dengan peradaban bangsa itu sendiri dalam mempertahankan kelangsungan dan eksistensi kehidupan.

Dari awal sejarah sampai saat ini semakin jelas bagaimana bangsa-bangsa berusaha mempertahankan dan mengembangkan segala kemampuan untuk mencapai tujuan, secara global dipastikan bahwa setiap bangsa berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi, pangan dan energi dengan segala cara. Itulah budaya peradaban bangsa.

Kita melihat Amerika sebagai negara maju semakin hari diliputi kecenderungan perubahan budaya dibanding dengan negara Cina, yang kita lihat sekarang ini sudah lebih jauh maju peradaban suku bangsanya. Budaya Cina dengan filosofinya menghormati leluhur sampai akhir hayatnya.

Budaya melambangkan identitas dan kepribadian bangsa menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada suatu bangsa eksis dalam mengatur negara tanpa menjunjung budaya guna mencapai tujuan.

Di Indonesia yang baru 72 tahun merdeka dipenuhi gejolak dalam proses mengenali jati diri. Sering terjadi konflik karena belum mampu memahami bagaimana budaya menjadi filosofi hidup bangsa. Belum semua warga negara menerima dan memahami serta melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen, akibatnya adalah terjadinya persoalan yang menghambat laju perkembangan bangsa.    

Maka Bangsa Indonesia selalu mempertahankan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa dalam upaya mencapai tujuan nasional.

Simalungun sebagai satu suku di Indonesia, sejak awal dan sejarah perkembangannya telah menunjukkan bagaimana peradapannya. Kerajaan Simalungun mulai dari Kerajaan Nagur, Kerajaan Maropat, Kerajaan Marpitu bahkan setelah kemerdekaan telah mampu hidup bersama dengan suku-suku bangsa yang lain.

Pada tahun 1959 dan 1961 di Kota Medan orang Simalungun telah mampu menjadi Wali Kota, demikian juga di instansi pemerintah lainnya banyak orang menjabat posisi penting.      

Pada akhir-akhir ini keadaan suku Simalungun semakin lama semakin tidak kelihatan dan telah ketinggalan jauh dengan suku-suku lain, baik dalam kegiatan budaya maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.      

Banyak kejadian yang memalukan warga suku Simalungun. Di mana orang Simalungun terkait kasus pelanggaran hukum, orang Simalungun terpecah tidak saling bahu membahu bekerjasama, orang Simalungun saling menjelekkan dan menjatuhkan, terjadi perubahan yang drastis makanya bahasa Simalungun juga semakin hilang dan tidak terdengar.

Sejalan dengan persaingan yang semakin ketat, para tokoh Simalungun berpikir untuk mencoba membangun, mereaktualisasikan bagaimana sebenarnya Simalungun itu yang memiliki filosifi hidup yaitu Habonaron do Bona.      

Hanya Suku Simalungun yang mempunyai filosofi pada basis kebenaran. Menurut para sesepuh Simalungun, bahwa Habonaron do Bona ini adalah filosodi yang diterapkan dalam kepemimpinan nasional.   

Maka Partuha Maujana Simalungun (PMS) Kota Medan bersama tokoh-tokoh Simalungun berusaha membangun kembali semangat Habonaron do Bona agar dapat dijadikan sebagai pedoman hidup warga Simalungun.

Pada tanggal 12 Agustus 2017 diadakan forum diskusi yang melibatkan kalangan akademisi untuk mengolah, menggali dan merumuskan kembali bagaimana mengaktualisasikan Habonaron do Bona di abad XXI ini.

Dari hasil pemaparan oleh narasumber  Prof Dr Ibnu Hajar Damanik MSi, Prof Dr Amrin Saragih, Dr Sarmedi Purba, H Nikmat Saragih, Pdt Juandaha Purba, Dr Erond L Damanik dan tokoh tokoh Simalungun, dari sudut pandang beberapa keilmuan, diperoleh makna yang luas dari Habonaron do Bona.

Di mana Habonaron do Bona telah ditetapkan menjadi filosofi hidup Suku Simalungun sejak tahun 1970. Kemudian pada tahun 1980 direvisi kembali. Dan tahun 2017 ini baru ditinjau kembali agar semua warga Simalungun tetap dalam semangat Habonaron do Bona.

Habonaron do Bona adalah filosofi hidup orang Simalungun yaitu suatu sikap, etika perilaku dan ideologi yang berlandas atas kebenaran.

Nilai-Nilai Habonaron do Bona menjadi pedoman dan penuntun hidup  yaitu:
Setiap perilaku masyarakat Simalungun harus takut akan Tuhan Allah, aktualisasinya adalah melaksanakan kewajiban agamanya dengan baik dan benar.

Menunjukkan semangat, jiwa dan perilaku Jujur, bertanggung jawab, pantang menyerah, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan sesama, pekerja keras, ulet dan tahan uji, gemar melakukan kegiatan sosial, selalu berusaha mengatasi kesulitan sesama (kreatif) serta menghindari perbuatan melanggar hukum.

Hormat kepada siapapun dan sesama dengan musyawarah Tolu Sahundulan (Tondong, sanina dan anakboru), tidak ada istilah irihati, dengki dan dendam bagi orang Simalungun.

Bahasa Simalungun menunjukkan kelembutan hati, saling asih, asah dan asuh dengan tegas.

Maka dari hasil FGD ini PMS Kota Medan akan merekomendasikan kepada Pemkab Simalungun:

 1. Pembinaan Budaya Simalungun menjadi tanggungjawab Pemkab diacarakan dalam Perda dan didukung APBD.

2. Pembinaan budaya Simalungun dimasukkan dalam Pendidikan Menengah dan Mahasiswa (Kurikulum dan extra kurikulum).

3. Lembaga masyarakat Simalungun melalui Tokoh Adat, Tokoh Agama maupun Tokoh Masyarakat lainnya bersama PMS mensosialisasikan budaya Simalungun di lingkungan keluarga, masyarakat dan Pemerintahan.

4. Memberdayakan Ormas PMS di seluruh wilayah Indonesia mulai tingkat Provinsi sampai tingkat Desa. Aktualisasinya warga Simalungun gemar menggunakan bahasa Simalungun sebagai bahasa kebanggaan, bahasa perekat dan pengikat rasa persaudaraan, melakukan pembinaan dan konsultan tradisi tradisi kebudayaan bagi masyarakat Simalungun.

5. Pemkab Simalungun selalu berusaha membuat kegiatan atau mengikutsertakan untuk mengangkat budaya Simalungun di tingkat Provinsi dan Tingkat Nasional.

6. Harapan kepada seluruh warga Simalungun di era abad XXI:

- Segera lahir pemimpin dari orang Simalungun memiliki kualitas yang dapat menjadi panutan, teladan dan diakui dalam kepemimpinan secara nasional.

- Adanya kebangkitan secara revolusional bagi masyarakat simalungun untuk mengangkat harkat dan martabat budaya Simalungun dalam setiap sikap perilaku kehidupan berbangsa san bernegara.

- Banggalah menjadi warga Simalungun, wujudkan dalam karya nyata aktualisasi habonaron do bona.

- Berbuatlah untuk mengangkat derajat dan martabat Simalungun dengan berbahasa Simalungun dengan sesama Simalungun.

- Simalungun adalah leluhur kita untuk selalu dihormati, dijaga dan dilestarikan, sosialisasikan seni budaya, lambang dan adat istiadat Simalungun sebagai wujud kehormatan dan bermartabat.

- Hilangnya budaya berarti hilang peradaban berarti kebinasaan, karena hukum alam yang menggenapi.

- Junjunglah Habonaron do Bona dimana pun berada dan berkarya.

- Dengan mengamalkan Habonaron do Bona dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat Simalungun akan terhindar dari terjerat kasus pelanggaran hukum, permasalahan karena intern kelalaian dan menjadi yang terbaik di masyarakat. (###)