HETANEWS

YPDT: Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan Aktivis Lingkungan Hidup di Samosir

Sebastian Hutabarat saat melaporkan kasus penganiayaan yang dialaminya ke Polres Samosir.

Samosir, hetanews.com - Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) menghendaki kasus yang menimpa Johannes Marbun dan Sebastian Hutabarat ditindak tegas pelakunya secara hukum.

Pasalnya itu merupakan tindakan penganiayaan, pengeroyokan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga siapa pun pelakunya harus segera ditangkap dan diproses secara hukum.

Baca: Aktivis Yayasan Pecinta Danau Toba Dianiaya di Lokasi Tambang Batu

Ini disampaikan Ketua Umum YPDT periode 2014-2019, Maruap Siahaan dan Sekretaris Umum, Andaru Satnyoto melalui pernyataan sikap, atas peristiwa yang dialami Johannes Marbun sebagai Sekretaris Eksekutif YPDT dan Sebastian Wakil Ketua YPDT Perwakilan Toba Samosir (Tobasa), pada Selasa (15/8/2017) di Desa Silimalombu, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir.

Menurut Maruap, kasus kekerasan pemukulan, penganiayaan, pengeroyokan, intimidasi dan 'penyanderaan' terhadap keduanya merupakan bentuk pelanggaran HAM, sehingga pelakunya harus ditangkap dan diproses hukum di Pengadilan.

“Kita mengecam keras dan menyesalkan tindakan sekelompok orang yang melakukan pelanggaran HAM tersebut di Desa Silimalombu. Tidak sepantasnya mereka melakukan hal itu. Karena kedua aktivis tersebut hanya datang berkunjung ke tambang penggalian batu tersebut dan diterima dengan baik berdialog dengan Jautir Simbolon (pemilik tambang),” sebut Maruap, kemarin.

Namun karena dialog di antara mereka terjadi silang pendapat, kedua aktivis lingkungan hidup itu mengambil sikap menghentikan pembicaraan dan pamitan secara damai serta bersalaman dengan Jautir Simbolon dan beberapa teman lainnya yang mengikuti diskusi.

Ketika sekitar jarak 10 meter kedua aktivis tersebut berjalan, tiba-tiba mereka memanggil kembali. Karena keduanya tidak mau berdialog lagi, sekelompok orang di pertambangan tersebut menghalang-halangi kepergian mereka. Di saat itulah terjadi peristiwa tindak kekerasan pemukulan, penganiayaan, dan pengeroyokan terhadap kedua aktivis tersebut.

Bahkan menurut kesaksian Johannes, jika Sebastian sempat mendapatkan pelecehan seksual dengan memeloroti celananya dan 'disandera' tanpa alasan yang jelas.

YPDT menilai, Jautir Simbolon dan beberapa orang anak buahnya sepatutnya dijadikan tersangka, harus segera ditangkap serta diproses secara hukum.

“Kita meminta dan mendesak Kapolres Samosir, AKBP Donald Simanjuntak, dan Kapolda Sumatera Utara agar segera menangkap Jautir Simbolon serta beberapa orang anak buahnya yang melakukan pelanggaran HAM. Setidaknya mereka telah melakukan perbuatan tindak pidana penganiayaan/pemukulan (Pasal 351 KUHP), perbuatan tidak menyenangkan (Pasal 335 KHUP), pengeroyokan (Pasal 170 KUHP), dan pelecehan seksual (Pasal 289 s.d. Pasal 296 KUHP) sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambah Andaru.

YPDT juga menghendaki agar setiap individu, kelompok, dan lembaga apapun tidak boleh melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap siapa pun dalam menjalankan profesinya dan kegiatannya menyuarakan penyelamatan lingkungan hidup guna pelestarian lingkungan hidup karena dijamin oleh Undang-Undang dan konstitusi yang berlaku di Indonesia.

Menurut Andaru, perjuangan untuk perbaikan lingkungan hidup tidak akan berhenti karena intimidasi dan kekerasan, penyalahgunaaan kekuasaan oleh segelintir orang.

YPDT juga menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam proses penyelamatan kedua aktivis tersebut sampai dengan pelaporan ke pihak Polres. Ini termasuk mengawal perjalanan pulang kedua aktivis tersebut ke Balige, Kabupaten Tobasa.

Penulis: abidan. Editor: aan.