Simalungun, hetanews.com - Kepolisian Resor Simalungun berhasil mengungkap peredaran uang palsu (upal). Pelaku dan barang bukti, telah diamankan guna pengembangan.

Pengungkapan peredaran uang palsu tersebut, dipaparkan saat pelaksanaan press release di kantor Sat Reskrim Polres Simalungun yang dipimpin Kapolres AKBP Marudut Liberty Panjaitan didampingi Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Damos C Aritonang, Kasubbag Humas Polres Simalungun, AKP J Sinaga dan Kanit Jahtanras Sat Reskrim Polres Simalungun, Iptu Zikri.

Kapolres memaparkan, pemalsuan uang tersebut diketahui dan ditemukan di rumah Hariati boru Damanik di Dusun Nagori Hanopan, Nagori Silau Paribuan, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun.

Di mana pelakunya yakni, Ahmad Aryo alias Ahua (44) dan Hendro Siahaan (28), keduanya warga Dusun II Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Kedua pelaku melakukan kejahatan tersebut bersama dengan 2 orang rekannya yang sampai saat ini masih dilakukan pencarian.

Pelaku melakukan aksinya dengan modus dapat menggandakan dari bank gaib. Aksinya tersebut diketahui, berawal saat bulan Maret 2017, seorang warga bernama Sugiono didatangi seorang laki-laki yang bernama Wak Lembek dan menanyakan, apakah ada orang yang mampu mengangkat uang dari bank gaib.

Sugiono menjawab ada, kemudian mempertemukan Wak Lembek dengan pelaku Ahmad Aryo alias Ahua, di rumah pelaku, bermaksud untuk menyampaikan maksud Wak Lembek, perihal mengangkat uang dari bank gaib di Negeri Tongah.

Setelah dijelaskan, pengertian bank gaib tersebut adalah di dalamnya terdapat uang Soekarno yang jumlahnya sebanyak Rp 5 triliun dan diperlukan berbagai persyaratan seperti bunga, kain putih dan minyak yang secara keseluruhan diperkirakan sebesar Rp 3.000.000.

Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan memperlihatkan kedua pelaku dan barang bukti uang palsu.

Mendengar hal tersebut, Ramlan alias Rom (54), karyawan PTPN III Silau Dunia, warga Dusun Hanopan Nagori Silau Paribuan, Kabupaten Simalungun, percaya dan istrinya Hariati boru Damanik (50), menyanggupi dengan menyerahkan uang sesuai  persyaratan yang disebutkan pelaku.

Keesokan harinya, Wak Lembek mengatakan kepada Ahmad Aryo, bahwa bank gaib berada di rumah Supardi. Saat dilakukan “ritual” pengangkatan yang saat itu disaksikan Wak Lembek, Ramlan alias Rom dan istrinya Hariati, tidak berhasil.

Namun pelaku Ahmad Aryo tidak kehilangan akal, ia kembali mengatakan syaratnya, yaitu uang sebesar Rp 2.500.000. Hariati kembali menyanggupinya dengan menyerahkan kembali uang tersebut.

Pelaku kembali melakukan aksi “ritualnya”, namun tetap tidak berhasil memenuhi permintaan dari para korbannya. Korban sudah merasa tertipu karena telah mengalami kerugian secara bertahap sampai sebesar Rp. 60.000.000. Karena sebelumnya pelaku mengaku dapat menggandakan uang mencapai Rp 6,7 miliar.

Karena tidak dapat memenuhi permintaan korbannya, pelaku Ahmad Aryo mulai ketakukan dan meminta pertolongan kepada temannya Hendro Siahaan untuk mencarikan orang yang dapat mencetak uang palsu.

Hendro Siahaan bersama dengan 2 temannya, berinisial yang sama yakni “D”, melakukan pencetakan uang palsu. Setelah tercetak, uang palsu tersebut diserahkan kepada Ramlan dan istrinya Hariati dengan cara memasukkan ke dalam kamar korban.

Sebelumnya, pelaku berpesan kepada kedua korban, bahwa sesuai dengan syarat, uang tersebut belum dapat diambil, namun karena penasaran, Ramlan dan istrinya masuk ke dalam kamarnya dan menemukan uang ratusan ribu sebanyak 15 lembar.

Hariati yang saat itu mempunyai hutang kepada temannya Wita Tani, langsung membayarkan sebesar Rp 200.000. Namun Wita curiga dan mengembalikan uang itu.

Setelah diketahui tentang peristiwa uang palsu tersebut, pihak Kepolisian langsung menyelidikinya dan mengamankan kedua pelaku, bersama barang bukti, berupa 1 unit printer pixma warna putih dan 15 lembar uang pecahan seratus ribu rupiah ke Polres Simalungun.

Terhadap kedua pelaku, dijerat dengan Pasal 36 Undang-Undang (UU) RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50.000.000.000.