HETANEWS.COM

Prihatin, Monumen Bersejarah Kodam I/BB 'Ditelan' Semak Belukar

Plang monumen terlihat jelas saat melintas di Jalan Siantar- Sariudolok, percisnya di Nagori Janggir Leto, Kecamatan Panei Tongah.

Simalungun, hetanews.com - Menjelang Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2017 mendatang, sebuah monumen bersejarah mengingatkanakan sejarah perjalanan bangsa ini, namun nyaris diterlantarkan.

Adalah Monumen peringatan gugurnya Pangdam I/Bukit Barisan (BB) Mayor Jenderal TNI Djarot Supadmo, di Nagori Janggir Leto, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun, Kamis (3/8/2017).

 Monumen Mayjen Djarot Supadmo.

Saat ini, kondisi monumen itu nyaris tertutupi oleh rimbunan belukar. Bahkan jika dipandang dari depan, hanya sedikit bagian monumen tersebut yang nampak akibat semak yang tingginya mencapai dua meter. Sedangkan bangunan yang menyerupai pendopo terlihat bernasib sama. Cat hijau muda sudah dibubuhi coretan-coretan, serta langi-langit (asbes) bangunan itu sudah amblas. Ditambah lagi, lantainya sudah ditumbuhi semak.

Sekilas, pengendara yang melintasi jalan Siantar-Saribudolok akan terkesan dan bertanya dalam hati, saat melihat plang 'Monumen Mayjen Djarot Supadmo' yang bercat hijau tua dipajang dipinggir jalan. Namun tidak banyak yang tau siapa sebenarnya Mayor Jendral TNI tersebut.

Pada Tahun 1986 Mayjen TNI Djarot Supadmo dilantik sebagai Pangdam I/Bukit Barisan. Mayjen TNI Djarot Supadmo, bersama lima orang lainnya meninggal dalam suatu kecelakaan pada 28 Februari 1986. Djarot Supadmo saat itu sedang dalam perjalanan dari Medan ke Kabupaten Simalungun untuk berceramah pada kursus sosial dan kekaryaan ABRI di Kota Siantar.

Tampak dari depan monumen Mayjen Djarot Supadmo.

Panglima termuda di Sumatera Utara itu, menumpangi Pesawat Helly jenis Aluette HA-7046 yang dikemudikan captain pilot Andi Pranoto jatuh, di daerah Nagori Janggir Leto, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun. Bersamanya ikut Asisten Tentorial Kodam I Kolonel Tengku Nurdin dan Ajudan Panglima Letda Adul Aziz. Di antara korban terdapat Copilot Capa Bowo Pudjo Laksono dan juru mesin Lettu Kombang Siregar.

Saat musibah terjadi, Mayjen Djarot Supadmo, genap satu bulan menjabat sebagai Panglima Kodam I Bukit Barisan.  Jasadnya diterbangkan ke TMP Kalibata. Jenazah Tengku Nurdin diterbangkan ke Banda Aceh untuk dikebumikan. Sedangkan Almarhum Pudjo Laksono dan Lettu Kombang Siregar dimakamkan di Medan.

Monumen Peringatan Gugurnya Pangdam I/ Bukit Barisan ini diresmikan  oleh Kodam I Bukit Barisan Mayor Jendral TNI Ali Geno pada 28 Februari 1987. Setahun yang lalu, tepatnya 3 Februari 2016 Panglima Komando Distrik Militer (Pangdam) I/ Bukit Barisan (BB) Mayjen Lodewijk Pusung melaksanakan ziarah dan memberikan karangan bunga serta cenderamata kepada saksi hidup yang melihat peristiwa jatuhnya Pesawar Helly Allouttr-III/AD HA 7046.

Penulis: gee. Editor: gun.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!