HETANEWS

Ini Alasan Gatot Pujo Nugroho Dikembalikan ke Lapas Sukamiskin

Mantan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho.

Medan, hetanews.com - Mantan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dikabarkan dijemput petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas)'Klas IA Tanjung Gusta, Medan, Kamis (27/7) malam.

Dia hendak dikembalikan ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Kasubag Publikasi Humas Ditjen Pemasyarakatan Syarpani membenarkan kabar tersebut.

“Bahwa benar mantan Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho telah dipindahkan kembali ke Lapas Sukamiskin oleh KPK,” ujar Syarpani melalui pesan singkat kepada wartawan, Sabtu (29/7/2018).

Dia menjelaskan, penempatan Gatot ke Lapas Medan sebelumnya atas permintaan KPK kepada Dirjen Pemasyarakatan. Tujuannya saat itu untuk kepentingan pemeriksaan atas kasus yang dihadapi Gatot.

“Sehingga setelah kasus yang bersangkutan selesai pemeriksaannya, maka KPK mengembalikan saudara Gatot ke tempat yang bersangkutan menjalani pidana sebelumnya,” ucapnya.

Sebelumnya Gatot Pujo Nugroho dijemput petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari Lapas Klas IA Tanjung Gusta, Medan, Kamis (27/7) malam. Dia dikembalikan ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

“Pak Gatot sudah dibawa (oleh KPK) semalam,” kata Kepala Lapas Klas IA Tanjung Gusta Medan, Jumat (28/7).

Gatot diterbangkan dari Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumut. Dia langsung dibawa ke Lapas Sukamiskin untuk menjalani sisa hukumannya. Statusnya Gatot di Lapas Tanjung Gusta selama ini masih tahanan titipan KPK.

“Bukan dibon (dipinjam). Tapi dipindahkan lagi ke Lapas Sukamiskin atas perintah KPK. Dulu di Lapas Medan hanya titipan, karena ada kasus lagi. Sekarang kasus sudah selesai (disidangkan). Jadinya, dia (Gatot) dikembalikan lagi ke Lapas Sukamiskin,” jelas Asep.

Seperti diberitakan, Gatot telah dijatuhi hukuman dalam 3'perkara korupsi. Dua perkara ditangani KPK yaitu penyuapan hakim PTUN Medan dan gratifikasi kepada anggota DPRD Sumut. Satu perkara lagi ditangani Kejati Sumut, yaitu korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) dan dana hibah Pemprov Sumut.

Dalam perkara penyuapan hakim PTUN Medan, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhi Gatot hukuman 3 tahun penjara. Kemudian dalam perkara korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) dan dana hibah Pemprov Sumut, majelis hakim Pengadilan Tipikor Medan menjatuhinya hukuman 6 tahun penjara.

Teranyar, dalam perkara gratifikasi kepada anggota DPRD Sumut, majelis hakim Pengadilan Tipikor Medan menjatuhi Gatot dengan hukuman 4 tahun penjara.

sumber: merdeka.com

Editor: aan.