HETANEWS

Hefriansyah Banyak Ngomong, Tindakan Nol

Plh Wali Kota Siantar Hefriansyah saat diwawancarai oleh media usai membacakan Nota jawaban Wali Kota Siantar atas pemandangan umum fraksi - fraksi DPRD Kota Siantar terhadap nota pengantar LKPJ Walikota Siantar Tahun Anggaran 2016, Jumat (2/6/2017). (foto : Lazuardy Fahmi)

Catatan: Aan

Hefriasnyah resmi dilantik sebagai Wakil Wali Kota oleh Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi, di Medan pada 22 Februari 2017 lalu.

Namun berjalan hingga akhir Juli 2017 sepertinya belum ada kinerja nyata yang ditunjukkan Hefriansyah buat Kota Siantar. Sehingga hal ini mengundang asumsi bagi Hefriansyah yang juga Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota ini mengenai kemampuannya dalam memimpin Kota Siantar ke depannya.

Sejak memimpin Siantar, Hefriansyah terkesan banyak mengumbar-umbar program. Namun sayangnya, tak satu pun dari program itu yang terealisasi dan dapat diraasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan apakah program-program itu hanya sebatas lisan tanpa perlu ada realisasi nyata di lapangan.

Hal lainnya menyangkut perkataan Hefriansyah yang menyatakan dirinya melakukan penghematan anggaran. Sayangnya, kenyataan itu bisa dikatakan berbanding terbalik. Pasalnya, Hefriansyah jika selalu pergi keluar kota harus membawa banyak rombongan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemko Siantar dengan jumlah sebanyak banyak. Ini menimbulkan pernyataan dimana letak penghematan yang dimaksudkan Hefriansyah.

Selain itu, Hefriansyah lebih suka melakukan kunjungan keluar kota dari pada melakukan silahturahmi atau pertemuan bersama berbagai elemen masyarakat di kota nya sendiri.

Padahal pertemuan di kota sendiri jauh lebih penting sebenarnya bagi Hefriansyah. Karena pertemuan silahturahmi d dengan para tokoh-tokoh di Siantar itu penting dan tak boleh dianggap ‘sebelah mata’. Artinya dalam hal ini, Hefriasnyah bisa mendapatkan banyak saran pendapat dalam membangun Siantar nantinya.

Hefriansyah juga terkesan kurang menghargai para tokoh masyarakat dan agama di Siantar. Hal ini jelas disayangkan, karena sebagai seorang pemimpin, Hefriansyah harusnya lebih intens membangun komunikasi dengan para tokoh masyarakat dan agama. Hefriansyah juga harus menunjukkan sikap penganyom, sehingga nantinya dapat menampung berbagai aspirasi dari masyarakat.

Pasalnya dengan adanya komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat itu jelas lebih menguntungkan bagi Hefriansyah dalam melaksanakan program kerja. Ini termasuk dapat mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Kota Siantar. Hefriansyah juga dapat melakukan kroscek terkait program kerja dari masing-masing OPD apakah benar-benar terlaksana dan bermanfaat luas bagi masyarakat.

Kritikan lain terhadap Hefrianyah mengenai tidak belajar terhadap peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku di Indonesia saat ini dan berjalan semaunya. Hal ini jelas merugikan terhadap sistim roda pemerintahan di Pemko Siantar.

Hefrianyah juga dalam memillih pimpinan OPD lebih menekana pada like or dislike (suka atau tidak suka). Ini artinya dalam penempatan para pejabat bukan berdasarkan kemampuan dan kompetensi dari pejabat yang akan menempati sejumlah posis i di OPD.

Hefriansyah juga sepertinya tidak punya power (kekuatan) pemimpin terhadap jajarannya. Ini terbukti setiap rapat paripurna dengan DPRD Siantar, Hefriansyah tak mampu menghadirkan pimpian OPD. Ini jelas menimbulkan pernyataan apakah para pimpinan OPD itu benar-benar tak menghargai Hefriasyah atau menganggap bersangkutan tak mengetahui apapun mengenai kondisi birokrasi di Siantar.

Dari berbagai pemaparan di atas seharusnya menjadi bahan evaluasi terhadap Hefriansyah dalam memimpin Siantar selama 5 tahun kedepan. Ini juga untuk menghilang asumsi di masyarakat jika Hefriasyah selama ini kebanyakan ngomong, namun tindakan realisasi sama sekali tidak ada atau nol besar(***)

Penulis: tim. Editor: aan.