Simalungun, hetanews.com - Krisno Tindaon (33) merupakan warga binaan (napi) Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pematangsiantar, kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Simalungun, Kamis (27/7/2017) terkait narkotika jenis sabu-sabu.

Seyogianya, Krisno dapat menghirup udara bebas pada 23 Juli 2017 lalu, tapi naas harus lebih dalam di hotel prodeo karena sabu-sabu.

Menurut saksi Hiras Silalahi dan Aswin Tanjung selaku petugas Lapas Siantar yang dihadirkan sebagai saksi disidang siang itu mengatakan, terdakwa Krisno dihukum push up 15 kali karena terlalu lama datang dari kamarnya untuk dibawa ke persidangan PN Simalungun terkait kasus perjudian. Petugas dengan pengeras suara telah berulang kali memanggil.

Akibat keterlambatannya, Kisno disuruh push up. Namun saat itu, sebuah plastik klip dari lengannya terjatuh yang ternyata sepaket sabu.

"Selanjutnya kami melapor kepada KPLP dan memproses terdakwa ke Polres Simalungun", kata Hiras.

Hasil pemeriksaan, terdakwa mengaku mendapatkan sepaket sabu seharga Rp 50 ribu dari warga binaan lainnya bernama Baigon. "Itu pun hutang yang mulia, rencananya dibayar siap sidang," kata terdakwa.

Namun kedua petugas Lapas Hiras Silalahi dan Aswin Tanjung tidak menindak lanjuti siapa pemasok sabu tersebut yang diketahui bernama Baigon.

"Kami tidak tau yang mulia, karena yang melakukan pemeriksaan penyidik," jawab Hiras.

Sebelumnya, jaksa Augus Vernando Sinaga melalui dakwaannya menyebutkan, terdakwa diamankan petugas Lapas pada Rabu, 15 Maret 2017 sekira pukul.10.00 WIB di depan klinik Lapas Siantar atas kepemilikan sepaket sabu seberat 0,18 gram.

Perbuatan terdakwa dijerat dengan pasal 114 dan pasal 112 Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Untuk tuntutan, persidangan dibantu panitera Afrizal ditunda hingga Rabu depan.