Siantar, hetanews.com - Puluhan tenaga magang RSUD Djasamen Saragih, menuntut diberikan upah.

Pasalnya, mereka mengaku sudah menahun tak menerima upah dari rumah sakit plat merah tersebut.

Kondisi ini terkuak ketika puluhan tenaga magang yang membantu memberikan pelayanan, bersama pengurus serikat buruh beraudiensi dengan dr Susanti Dewayani, direktur utama RSUD didampingi jajaran direksi lainnya, Selasa (18/07/2017).

Informasi dihimpun, sebanyak 50 dari 140 orang jumlah tenaga magang yang bergabung di SBSI Solidaritas sudah lama membantu pelayanan, di rumah sakit milik Pemko Siantar tersebut, namun tidak memperoleh upah. 

Seperti dikemukan Christina, salah seorang tenaga magang, mengaku sudah 3 tahun bekerja di sana. Sepanjang waktu itu, dia menuturkan tak pernah mendapatkan gaji. "Belum pernah dapat gaji, udah 3 tahun disini," katanya.

Hal senada disampaikan boru Pakpahan. Wanita ini juga mengaku sudah 3 tahun bekerja dan mendapatkan nasib yang sama. Namun ketika ditanya, alasan pihak rumah sakit tidak memberikan gaji, dia mengaku manajemen kerap berjanji.

"Gak tau lah kenapa, selalu janji-janji," katanya.

Sejumlah spanduk di RSUD Djasamen Saragih Siantar.

Sementara itu, dalam pertemuan tadi, dr Susanti yang baru dilantik menjabat Dirut RSUD Djasamen Saragih mengatakan, baru mengetahui persoalan. “Saya tidak tahu ini sebelumnya. Saya juga tidak tahu bagaimana status mereka ini,” ujar Susanti kepada ketua SBSI Solidaritas Kota Siantar, Ramlan Sinaga.

Wakil Direktur I, Harlen Saragih, diketahui merupakan unsur pejabat sebelumnya, mengaku terkejut atas masalah yang dialami para tenaga kerja.

“Adik-adik ini tidak pernah menyampaikan kepada kami. Saya kurang tau, apakah ini sudah pernah disampaikan kepada menejemen yang lama dan tidak disampaikan kepada kami. Seharusnya, ada baiknya adik-adik ini menyampaikan keluhan dulu sama kami, mana tahu bisa kami selesaikan dan ternyata langsung ke SBSI,” ucap Harlen.

Menanggapi hal itu, salah seorang pengurus SBSI Solidaritas, Rindu Marpaung sangat menyesalkannya. Mengingat posisi Harlen pada tahun tahun sebelumnya, merupakan Wadir, di rumah sakit itu.

“Teman-teman ini puluhan tahun tidak bekerja, tidak digaji. Saya kurang setuju juga Harlen mengatakan tidak tau. Mudah-mudahanlah tidak tahu karena bapak waktu itu salah satu unsur jajaran direktur,” tegas Rindu.

Dia mengaku, tak menyangka rumah sakit milik pemerintah mempekerjakan orang tapi tidak memberikan gaji. Padahal para tenaga magang selama ini mendapatkan Surat Keputusan (SK) bekerja.

“Kok bisa dijadikan dengan tenaga sukarela. Saya bingung karena ini lembaga publik, mempekerjakan orang dengan sukarela,” sebutnya.

Di akhir pertemuan, jajaran direksi yang baru belum bisa mengambil keputusan soal nasib para tenaga magang. Dan mereka mengaku akan membenahi menajemen dulu serta menghitung kondisi keuangan. Pertemuan akan dilanjutkan kembali pada 22 Juli 2017.

“Jika masih memungkinkan untuk direktrut nanti akan kita pelajari dulu. Kami dari manajemen, baru berupaya mencari solusi. Kami harus berkoordinasi dengan Pemko, jadi nanti apabila ada perintah kepada kami, maka itu juga kami sampaikan,” kata Susanti.