Menggusur, Melantik dan Dilantik, ‘Fenomena Alam’ di  Siantar

Para PKL menutup akses Jalan Merdeka, tepatnya di depan GOR Siantar, Senin(12/6/2017) malam. Pedagang pakaian bekas menuntut agar pihak Satpol PP berpihak adil terhadap mereka dan menuntut bazar di GOR juga digusur. (foto : Lazuardy Fahmi)

Catatan : Aa Tommy

Sewaktu saya masih kecil dulu teringat kata orang tua saya bahwa Siantar merupakan Kota yang memiliki hawa sejuk, dan tenang.

Ini membuat orang tua saya enggan meninggalkan Kota Siantar. Bahkan sewaktu saya kuliah dulu di ibu kota, selalu mengajak orang tua untuk berlama-lama menemani di perantauan. Tetapi mereka selalu rindu akan hawa sejuk dan tenangnya Kota Siantar.

Saya akui dahulu Siantar merupakan kota yang sejuk dan tenang. Namun sekarang yang saya lihat, Siantar sudah tidak sejuk, bahkan tak tenang lagi.

Fenomena alam yang saya lihat seperti Suku Bunian yang beberapa waktu lalu sempat geger di Jalan Medan atau adanya hewan yang disebut lintah dan ada mengatakan cacing di Danau Toba, sepertinya begitu juga fenomena di Siantar, dan malah lebih ekstrim lagi.

Fenomena adanya suku bunian atau pun lintah yang disebut cacing itu telah menjadi perdebatan yang ujungnya tidak tahu seperti apa, apakah benar ada suku bunian itu atau si lintah yang tak mau disebut cacing.

Sepertinya fenomena alam di Siantar juga tak berujung, di mana secara tiba-tiba Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan garangnya menumpas habis (bukan kejahatan loh seperti yang di film-fiim) pedagang kaki lima (PKL) di sekitaran Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka.

Kenapa ini menjadi perdebatan, saya pun mencoba menjadi pengamatan. Hasil amatan saya ternyata pedagang yang awalnya 1 orang akhirnya berkembang menjadi banyak dan mengisi setiap tepian Jalan Sutomo dan Merdeka.

Loh kenapa menjadi banyak, saya tak bisa mengatakan yang walaupun saya tau itu karena pembiaran (ups maaf kecepolosan). Kembali saya amati ternyata ada alih-alih untuk mengisi perbendaharaan diri  sendiri (bukan saya yang ngomong loh, itu pedagang langsung).

Saya masih mengamati ternyata pembongkaran itu juga punya dalih-dalih lain. Katanya agar Siantar tidak tampak kumuh (kalau begitu kenapa dibiarkann dari awal). Dan hasil amatan saya, jika Pasar Horas dan Pasar Dwikora juga tampak kumuh, kenapa juga tidak dibongkar kalau dalihnya Siantar agar tak kumuh.

Parahnya lagi Siantar yang sampai saat ini minim prestasi di bidang olahraga harus rela menunggu sampai Gedung Olahraga (GOR) Jalan Merdeka kembali difungsikan sebagai tempat olahraga bukan berjualan.

Cerita tentang GOR yang dijadikan tempat berdagang bazar mulai beroprasi sekira pukul 17.00 WIB. Di jam-jam seperti itulah banyak orang yang berdiri di pinggir jalan bahkan sampai ke tengah jalan sampai membuat kemacetan dan memanggil-manggil pengendara.

Nah pesan orang tua saya dulu kalau dipanggil orang berhenti, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, saya pun berhenti. Lalu saya tanya ada apa kah, mau parkir bang? Waduh fenomena baru yah, seperti pedagang makanan dan minuman di Taman Bunga saja.

Bukan Siantar namanya kalau tidak punya cerita. Ada lagi cerita tentang melantik dan dilantik. Beberapa waktu lalu pejabat di Kota Siantar dilantik oleh Wakil Wali Kota Siantar atau Pelaksana Harian (Plh) Walikota Siantar Hefriansyah yang sebelumnya banyak mendengung-dengungkan agar dilakukan pelantikan sehingga roda pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Ini agar roda pemerintahan menjadi baik tidak juga harus melanggar peraturan kata teman-teman saya di kampung.

Uniknya ada pejabat yang dilantik melanggar peraturan yang berlaku seperti berstatus mantan narapidana dan terpidana. Sementara dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 800/4329/SJ, tanggal 29 Oktober 2009 yang secara tegas melarang mantan napi korupsi untuk diangkat dalam jabatan struktural.

Kembali saya menjadi pengamat, dan katanya pejabat itu akan diganti. Namun yang saya llihat sampai sekarang prosesnya entah sampai kapan. Anehnya Kepala Badan Kepegawian Daerah (BKD), Zainal Siahaan mengaku tidak tau soal peraturan itu. Kalau bahasa anak gaulnya, saya harus bilang ‘Wow’ seorang pejabat tidak tau peraturan.

Ini muncul lagi kabar heboh, Hefriansyah akhirnya didefenitifkan menjadi Wali Kota Siantar dan kabarnya akan segera dilantik. Ada yang bilang itu terlalu lama. Namun ada juga yang bilang kok bisa yah. Itu lah segelintir tentang Siantar yang sudah tidak tenang dan sejuk lagi.

 

Penulis: Tom. Editor: Aan.