Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Hetanews.com libur mulai tanggal 25 Juni 2017 hingga 2 Juli 2017. Kami akan kembali tayang seperti biasa mulai tanggal 3 Juli 2017. Demikian pengumuman ini kami sampaikan kepada para pembaca Hetanews.com.

Polri Dinilai Layak Usut Penyebab Keracunan 155 Orang Warga Manik Huluan

Warga Nagori Sait Buntu saat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Sidamanik.

Simalungun, hetanews.com - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dinilai layak untuk mengusut tuntas apa penyebab keracunan 155 orang warga Huta Manik Huluan Nagori Sait Buntu Saribu Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Rabu (19/4/2017) hingga mengalami muntah, demam, dan susah buang air besar (BAB). 

Ini mengingat belum mampunya pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Simalungun dalam mengidentifikasi penyebab keracunan. Dan peristiwa yang menyebabkan korban muntah, demam, dan susah BAB diduga akan berdampak korban mengidap penyakit kanker, mutasi, bayi lahir cacat, dan caids. 

Hal itu dibenarkan Dinkes Kabupaten Simalungun melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penyakit, Saurbabel Saragih. Dia mengatakan, sampai sejauh ini pihaknya belum bisa memastikan keracunan apa yang di alami warga. Dan menilai keracunan tersebut merupakan peristiwa yang sangat luar biasa.  

"Sampai sejauh ini kita belum bisa memastikan apa yang dialami warga apakah karena keracunan pestisida ataupun tidak. Kejadian itu sangat luar biasa, tidak bisa asal asalan. Kita tunggulah hasil dari uji laboratorium," ujarnya dari seberang telepon seluler, Senin (24/4/2017).

Alasan lainnya, adanya pernyataan lisan dari pihak PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL)  pasca keracunan yang dialami warga Huta Manik Huluan, Nagori Sait Buntu Saribu Kecamatan Pematang Sidamanik, juga dialami sejumlah karyawan perusahaan bubur kayu di wilayah Tapanuli itu. Ini melalui asisten Manager Komunikasi, Augusta Sirait tanpa merinci penyebab dan identitasnya.

 

Sebelumnya, Pangulu Sait Buntu Saribu, P Ambarita membenarkan bahwa air minum yang dikomsumsi warga Huta Manik Huluan bersumber dari hutan di kawasan tanaman eucalyptus milik PT TPL yang merupakan wilayah pemerintahan nagorinya.

Dan diungkapnya, bahwa perusahaan bubur kayu (PT TPL) itu dalam membasmi rerumputan atau gulma-gulma di lahan Hak Guna Usaha (HGU) nya secara rutin menggunakan pestisida diduga Paraquet atau di Indonesia dikenal gromoxone secara menyemprot dengan alat semprot mesin. 

Adanya pernyataan dari pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuan Rondahaim melalui Direktur RSUD, Lidya Saragih mengatakan, penyebab keracunan yang dialami masyarakat Huta Manik Huluan bukan diakibatkan keracunan makanan dinilai sudah menjadi acuan Polri dalam memulai penyelidikan maupun penyidikan.

Penulis: Zai. Editor: Aan.