Terlihat saksi di persidangan Kisno mengadu kepada hakim mengenai ancaman istri terdakwa.

Tebingtinggi, hetanews.com - Tampaknya kasus yang dialami terdakwa Nelson Tampubolon bakal bisa berbuntut panjang hingga berepisode di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi.

Pasalnya,saksi yang dihadirkan oleh saksi korban Edison Tampubolon bernama Sukisno warga Kampung Tempel Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) mengaku ada diancam Esti br Pandiangan. Dimana ujar Kisno, hal itu terjadi sebelum digelarnya persidangan.

Bahkan, dengan lugunya saksi korban mengaku, bahwa Esti yang tidak lain istri terdakwa Nelson Tampubolon dan seorang Kepela Sekolah (Kepsek) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sergai mengancam saksi akan ditangkap.

“Dikatakan di persidangan seluruhnya tidak tau apa-apa dalam kasus yang dialami terdakwa Nelson. Padahal,saksi Kisno telah pernah diperiksa di Polres Sergai dan sudah dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP,” ujar saksi kepada Ketua Majelis Hakim Eryusman disaksikan jaksa Juita dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sergai.

Sekedar diketahui,terdakwa Nelson Tampubolon pesakitan terkait kasus tanah keluarga dengan saksi korban Edison Tampubolon beberapa waktu lalu.

Hari itu, Sabtu tanggal 1 Oktober 2016 sekira pukul 16.00 WIB bertempat di Jalan Umum Dusun VIII Kampung Tempel Desa Penggalangan, Kecamatan Sei Bamban, terjadi keributan hingga adanya penganiayaan, sehingga terdakwa Nelson Tampubolon pernah ditahan di Lembaga Permasyarakat (Lapas) Tebingtinggi.

Dimana, Edison Tampubolon sedang mengendarai mobil bersama saksi Jhon F Damanik  dari Desa Gempolan menuju Desa Pon. Kemudian saat melintasi Dusun XVII Desa Sei Bamban saksi korban berselisih dengan terdakwa dan tetap lanjut menuju Desa Pon

Saat tiba di Jalan Dusun VIII Kampung Tempel Desa Penggalangan Kecamatan Sei Bamban, tiba-tiba terdakwa memalangkan sepeda motornya di depan mobil yang dikemudikan saksi korban. Sehingga saksi korban pun berhenti.

Kemudian terdakwa turun dari sepeda motornya mendatangi saksi korban dengan mengambil satu buah batu koral dengan mengatakan ‘kau harus kumatikan karena kau sudah memalsukan surat tanah’.  Lalu saksi korban mengatakan ‘tidak bang kalau mau kau bayar kerugianku kita pecah suratnya’.

Selanjutnya terdakwa langsung mencabut kunci mobil saksi korban dan memukulkan batu koral di tangannya sebanyak 3 kali yang mengenai wajah saksi korban. Kemudian saksi korban mengatakan ‘sudah bang ...aku malu banyak tahananku disini karena aku juga pejabat’.

Namun terdakwa  mengabaikan perkataan korban dan memukulkan lagi dengan menggunakan batu koral tersebut ke wajah. Terdakwa juga melemparkan kunci mobil ke wajah saksi korban.

Atas kejadian tersebut, Edison  mengalami luka lecet tulang hidung kiri, pelipis kiri dan luka memar pelipis kiri, sesuai dengan visum et revertum No. 1/X/RSM/KP/2016 tanggal 01 Oktober 2016, yang dibuat dan ditanda tangani Emma Br Kaban, dokter pada RSU Melati Desa Pon, dengan kesimpulan luka memar dan lecet diduga akibat benda tumpul.