Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Hetanews.com libur mulai tanggal 25 Juni 2017 hingga 2 Juli 2017. Kami akan kembali tayang seperti biasa mulai tanggal 3 Juli 2017. Demikian pengumuman ini kami sampaikan kepada para pembaca Hetanews.com.

Korban Pemerkosaan masih Trauma, Keluarga Pelaku Minta Berdamai

Kedua pelaku PP dan DFS dengan wajah ditutupi sebo dan tangan digari yang diserahkan orang tuanya masing-masing ke Polres Siantar, Rabu (11/1/2017). (foto : Lazuardy Fahmi)

Siantar, hetanews.com - Korban pemerkosaan dan penganiayaan terhadap siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) inisial SR (15) saat ini masih mengalami trauma.

Hal itu berdasarkan keterangan pemerhati anak Tri Utomo yang mendampingi SR selama ketika menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh 8 orang pemuda beberapa waktu lalu.

Bahkan ada salah seorang keluarga pelaku yang meminta berdamai dengan keluarga korban. 

Diwawancarai hetanews di depan Mapolres Siantar, Rabu (11/1/2017) Tri Utomo menuturkan, jika SR saat ini sedang menjalani perawatan intensif ke dokter psikiater.

"Seminggu 2 atau 3 kali lah ke dokter dan memang dia masih trauma," sebut Tri.

Trauma itu ditunjukkan cerita Tri ketika melihat seorang lelaki yang seumuran dengannya. "Kalau lihat anak laki-laki yang kecil atau yang seperti seumuran dengan dia, langsung dikejarnya itu, langsung kita tahan lah. Enggak taulah mau diapain dia kian," paparnya.

Hingga saat ini SR belum masuk sekolah, dan Tri Utomo sudah meminta kepada sekolah untuk tidak memberikan informasi yang menyudutkan korban.

"Ada kita dengar informasi-informasi yang menyudutkan korban. Jadi saya datangi kepala sekolah (kepsek) agar informasi-informasi itu tidak berkembang lagi, sudah cukup lah itu," sebutnya. 

Dia mengharapkan, pihak sekolah juga memberikan dukungan moril kepada korban. Menurutnya, perlu juga ada dukungan dari pihak sekolah agar korban bisa melepaskan trauma yang dialaminya.

Selain itu, berdasarkan informasi ada beberapa teman korban yang juga menyudutkan SR. "Ada juga teman-teman korban yang melakukan bully kepada korban. Bahkan ada yang menyampaikannya langsung melalui inbox media sosial (medsos), itulah pertimbangan keluarga juga sampai saat ini korban belum masuk sekolah," sebut Tri.

Lanjut Tri, salah seorang keluarga pelaku melalui kuasa hukumnya bermarga Damanik mendatangi keluarga korban meminta untuk berdamai.

"Saya kemarin klarifikasi itu kepada pengacaranya dan benar memang mereka meminta untuk berdamai, dengan perjanjian bahwa korban akan dinikahkan oleh pelaku yang bernama Sahat," imbuhnya.

Walaupun begitu, Tri tetap meminta agar semua pelaku dihukum seberat-beratnya terkhusus pada pelaku utama yakni Sahat.

"Dengan meminta korban untuk berdamai berarti secara logikanya keluarga dari si pelaku sudah mengetahui keberadaan dari bersangkutan (pelaku). Kita berharap agar pelaku cepat ditangkap dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau bisa dihukum seumur hidup, khusus untuk pelaku yang tidak di bawah umur," tutupnya. 

Penulis: Tom. Editor: Aan.