Desa Meranti Barat, Tanpa Dialiri Listrik dan Jalan Rusak Parah

Warga dengan bersusah payah membawa hasil bumi mereka dengan kondisi jalan yang rusak.

Tobasa, hetanews.com - Keberadaan Desa Meranti Barat, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) sepertinya kurang diperhatikan pemerintah sampai saat ini.

Seperti infrastruktur jalan yang susah dilintasi kendaraan sepeda motor dan roda empat, karena rusak dan terjal. Selain itu, desa tersebut belum dialiri listrik.

Anak-anak yang belajar dengan menggunakan lampu karena tidak adanya penerangan listrik.

Menurut pengakuan warga setempat, bahwa Desa Meranti Barat tidak pernah diperhatikan pemerintah dari zaman Indonesia merdeka dari tahun 1945 sampai tahun 2017.

"Kami tidak pernah merasakan kemerdekaan itu. Kenapa saya bilang seperti? lihat saja pak listrik tidak ada di kampung kami dan jalan pun sangat susah. Kami kalau ke ibu kota kabupaten pergi untuk mengurus sesuatu harus menempuh 30 km lebih dan memakan waktu 2,5 jam," tukasnya, Selasa (10/1/2017).

Akses jalan menuju Desa Meranti Barat.

Mirisnya, apabila anak-anak mereka mau belajar di malam hari hanya mempergunakan lampu botol dengan kain yang rusak dan minyak lampu.

"Sementara minyak lampu (minyak tanah) di kampung kami ini harganya sudah Rp 22.000 per liter. Kami kadang menangis melihat anak anak kalau belajar di malam harinya," papar warga marga Siagian.

Warga lainnya menuturkan, jika pun pergi ke onan (pekan) pada hari Selasa, mereka akan menempuh jarak sekitar 2 km dan memakan waktu selama 30 menit mengendarai sepeda motor.

Kondisi jembatan yang dilintasi warga setiap harinya menuju Desa Meranti Barat.

"Itu lah karena jalan kami rusak dan tidak pernah diperhatikan pemerintah. Ketika kami menjual hasil bumi pada saat pekan hanya sampai pukul 13.00 WIB. Dan yang jualan pun hanya dua mobil karena gardang dua," tukas warga.

Akibat kondisi itu membuat warga malas menghadiri jika ada rapat atau reses dari para anggota dewan (DPRD). Kami tidak hadiri lagi, karena yang dibahas di sana hanya bohong saja semuanya. Jadi tidak ada gunanya kami hadir di sana," sebut sejumlah warga.

Penulis: Johan. Editor: Aan.