Pasutri yang menjadi terdakwa kasus pengerusakan. (foto : Ndo)

Siantar, hetanews.com - Terbukti melakukan pengerusakan di sebuah rumah yang tidak lain milik tetangganya, pasangan suami istri (pasutri) divonis pidana penjara selama 9 bulan oleh majelis hakim yang dipimpin Fhytta Sipayung dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Siantar, Kamis (3/11/2016).

Pasutri yang kini menjadi terdakwa tersebut yakni Edison Pasaribu (55) dan Erpeida boru Simanjuntak (56), warga Jalan Suka Mulia, Kelurahan Tong Marimbun, Kecamatan Siantar Marimbun.

Hakim memutuskan pidana penjara selama 9 bulan tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal  406 ayat (1) KUHPidana Yo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Putusan ini lebih rendah selama 3 bulan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Secsio Nainggolan yang menuntut agar keduanya dijatuhi hukuman pidana penjara selama satu tahun. Tuntutan jaksa itu sama dengan pasal yang dikenakan majelis hakim dalam memberikan putusan.

Atas putusan tersebut, hakim Fhytta mempersilahkan kedua terdakwa maupun Jaksa untuk banding, menerima atau pikir-pikir selama 7 hari kedepan. Kemudian hakim ketua mengetuk palu sebanyak tiga kali untuk menutup persidangan.

Diketahui bahwa kedua terdakwa, pada Kamis (4/22016) sekira pukul 09.00 WIB, bertempat di Jalan Suka Mulia Kelurahan Tong Marimbun, Kecamatan Siantar Marimbun telah melakukan pengerusakan terhadap rumah korban Tolli Napitupulu.

Korban sudah membangun rumahnya tersebut pada tahun 1980 dan sudah tinggal selama 36 tahun. Kedua terdakwa datang menjumpai korban dan mengatakan bahwa tanah itu warisan dari orang tua mereka yakni almarhum Waldemar Simanjuntak dan almarhum  Basani br Napitupulu.

Bahwa kemudian kedua terdakwa bersama dengan tukang yakni saksi Saut Maruli Tua Simamora dan Marga Lubis menuju rumah korban. Kedua terdakwa secara paksa merusak kunci gembok rumah milik korban hingga pintu rumah terbuka.

Para terdakwa masuk kedalam rumah dan mengeluarkan barang-barang milik korban yakni 3 buah lemari kain, rak piring, foto-foto, jam dinding, piring, gelas dan bola lampu dan mengumpulkannya di depan rumah.

Kemudian dua tukang dengan menggunakan martil dan linggis membuka serta membongkar dinding dan seng/atap rumah korban secara paksa sehingga rata dengan tanah.

Akibat perbuatan para terdakwa, rumah milik korban menjadi rusak dan rata dengan tanah dan korban tidak memiliki tempat tinggal lagi serta korban mengalami kerugian sebesar Rp 15 juta.