Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Siantar menggelar sosialisasi penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan media pers, Rabu (12/10).

Siantar, hetanews.com - Sejak tahun 2010 hingga Agustus 2016,terdapat 514 orang yang terinfeksi HIV dan AIDS. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut.Terungkapnya jumlah pengidap HIV dan AIDS itu ketika Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Siantar menggelar sosialisasi penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan media pers, Rabu (12/10).

Sosialisasi yang dihadiri puluhan wartawan itu berlangsung di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Siantar.

Dalam sosialisasi itu, Iswan Lubis, Sekretaris KPAD Kota Siantar memaparkan, menurut laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Siantar, jumlah yang sudah terinfeksi HIV dan AIDS di Kota Siantar, yakni 514 orang dengan rincian pada tahun 2010 sebanyak 57 orang, pada tahun 2011 sebanyak 47 orang, pada tahun 2012 sebanyak 85 orang, pada tahun 2013 sebanyak 80 orang, pada tahun 2014 sebanyak 107 orang, pada tahun 2015 sebanyak 447 dan  per Agustus 2016 sebanyak 67 orang.

"Jumlah itu dikumpulkan Dinkes dari dari RSUD Djasamen Saragih, Puskesmas Tomuan dan Puskesmas lainnya serta Rumah Sakit Swasta yang ada di Siantar," ujarnya.

Dengan banyaknya jumlah itu, lanjut Iswan, perlu diperbanyak sosialisasi dan informasi penyuluhan tentang HIV dan AIDeS kepada seluruh lapisan masyarakat agar penularan virus HIV dan AIDS dapat ditekan.

Iswan membeberkan bahwa layanan VCT (Test HIV) yang sebelumnya hanya ada di RSUD Djasamen Saragih dan Puskesmas Tomuan, kini sudah bertambah. "Sekarang layanan VCT sudah ada di Puskesmas Kartini, Puskesmas Karo, Puskesmas Ksatria dan Puskesmas Martoba. Itu berkat kerja keras kita dan jajaran Dinkes," ungkapnya.

Selain itu, Dinkes juga memiliki program penanggulangan HIV dan AIDS yakni mewajibkan setiap ibu hamil untuk tes HIV. "Itu dilakukan karena belakangan ini sudah sering terjadi ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dan AIDS dari suaminya," ucapnya.

Terkait obat-obatan ARV (obat untuk penderita HIV), Iswan mengutarakan bahwa persediaan obat cukup memadai. "Hanya kita mengharapkan agar orang-orang yang terinfeksi HIV dan keluarganya agar mau memeriksakan dirinya di tempat layanan yang ada secara teratur," terangnya.

"Kita juga terus melaksanakan penyuluhan kepada lapisan masyarakat agar masyarakat lebih mengerti dan mempunyai pengetahuan dasar untuk pencegahan penularan HIV, termasuk penyuluhan kepada pelajar dan mahasiswa," imbuhnya.

Tidak hanya, kepada kelompok yang beresiko tinggi terkena HIV dan AIDS seperti gay, waria serta lelaki pelanggan, sosialiasi turin pun terus dilakukan.

"Kepada mereka, sosialisasi kita lakukan dengan giat agar mereka bisa merubah perilaku yang beresiko tertular HIV dan AIDS. Penyuluhan itu kita lakukan di cafe-cafe terutama di Tanjung Pinggir. Pemeriksaan
darah dan tes IMS seperti Genore, Sifilis dan lain-lain pun kita lakukan terhadap mereka," katanya.

Masih di lokasi yang sama, Dedi Purwanto, Pengelola Program KPAD Kota Siantar, menyampaikan bahwa setiap orang yang terinfeksi HIV dan AIDS tidak perlu dihindari.

"Hindari virusnya bukan orangnya. Masyarakat juga harus menghentikan stigma (cap buruk) dan diskriminasi bagi penderita HIV dan AIDS. Perlakukanlah penderita HIV dan AIDS sama dengan orang lainnya," terangnya.

"Karena HIV itu hanya terdapat pada darah, cairan sperma, cairan vagina, ASI. Kalau tidak bersentuhan dengan hal-hal itu, pasti tidak akan tertular," tambahnya.