Ketiga terdakwa mengikuti jalannya persidangan. (foto : Bismar Siahaan)

Simalungun, hetanews.com  - Ada hal yang berbeda yang di berikan majelis hakim terhadap para terdakwa yang diduga melakukan pengerusakan sebuah makam, dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Rabu (4/5/2016). Baca : (http://www.hetanews.com/article/51552/dituding-hancurkan-makam-hitler-dkk-ajukan-penangguhan-penahanan).

Selain membantah atau membatalkan tanggapan jaksa, majelis hakim PN Simalungun tampak agak memberatkan dakwaan dari pihak Kejaksaan. Ntah alasan apa yang membuat majelis hakim memberikan pertimbangan terhadap para terdakwa.

Terbukti majelis hakim menolak tanggapan jaksa, karena para terdakwa menjadi tulang punggung keluarga. Agenda persidangan mendengarkan tanggapan dari jaksa untuk menanggapi eksepsi dari penasehat hukum terdakwa. 

Hakim memutuskan para terdakwa diberikan keringanan dengan menjadi putusan tahanan rumah sesuai dengan permintaan penasehat hukum terdakwa pada saat persidangan beberapa waktu lalu. Namun dalam pembacaan itu, majelis hakim meminta kepada ketiga terdakwa agar tetap mematuhi persidangan dan terus menghadiri sidang.

Usai memberikan penjelasan, majelis hakim diketuai, Saut Banjarnahor, bersama hakim anggota Dauglas Napitu, dan Nasfi Firdaus langsung menunda persidangan hingga Kamis depan.

Terpisah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Viktor Purba mengatakan, ketiga terdakwa tersebut dijadikan tahanan rumah karena menjadi tulang punggung keluarga. “Itu mungkin yang membuat pertimbangan bagi majelis hakim tadi,” ucapnya.

Namun saat wartawan ingin mewawancarai penasehat hukum terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan justru enggan memberikan komentar apapun mengenai pengalihan klien mereka sebagai tahanan rumah.