PT Aquafarm Nusantara Siap Terima Gugatan Rizal Ramli

Simalungun, hetanews.com - PT Aquafarm Nusantara, yang merupakan salah satu Penanaman Modal Asing (PMA) dengan aktivitas usaha di kawasan Danau Toba, siap menerima gugatan yang akan dilakukan oleh Menko Maritiman dan Kelautan, Rizal Ramli, jika apa yang dimaksud oleh Menko tersebut, tentang perusahaan pencemar termasuk salah satunya adalah pihak mereka.

"Kami siap menerima gugatan dari Menko. Asalkan gugatan tersebut dilakukan dengan berkeadilan, serta sesuai fakta fakta apa yang terjadi terkait pengelolahan Keramba Jaring Apung (KJA) kita, " ujar Yudi, manager publikasi PT Aquafarm Nusantara, kepada Hetanews.com, selasa (23/2), di sekitaran kota Siantar.

Menurut dirinya, perusahaan mereka secara inti memanglah memiliki aktivitas induk di kawasan Danau Toba. Namun, sebenarnya kegiatan usaha mereka ini bukanlah hanya melakukan aktifitas di daerah itu saja.

Aktifitas lain diantaranya, pabrik ransum pakan (feed mill), pembenihan ikan (hatchary), pembesaran ikan (processing plant), yang dilakukan pemasarannys ke Amerika, Eropa, dan Asia.

"Untuk unit pembesaran itu berada di kawasan Danau Toba, dengan bentuk keramba apung, sedangkan untuk yang lainnya itu berada di Serdang Bedagai. Secara keseluruhan tenaga kerja ada sekitaran 5000 orang," sebut dirinya.

Ketika disinggung kembali terkait pencemaran lingkungan Danau Toba, Yudi tidak menapik bahwa pihak mereka juga memiliki celah atas hal itu. "Kalau terkait ikut serta mencemarkan, tidak kami tapik kalau kami juga melakukannya.

Tetapi, pencemaran yang kami lakukan tidak separah seperti apa yang disebut oleh kebanyakan. Pada dasarnya kami gunakan pelet apung untuk pakan, jadi kalau tidak habis tidak tenggelam. Lalu biaya terbesar dari proses pembesaran biaya terbesar adalah dari segi pakan. Tidak mungkin kami asal buang saja. Kami juga siap untuk dilakukan audit independent terkait kerusakan kadar air yang kami perbuat," bela dirinya.

Diurai olehnya juga, untuk mendapatkan kontrak hingga Amerika dan Eropa bukanlah hal yang mudah, tim independen dari perusahaan disana juga telah menurunkan tim ahlinya guna kepantasan hasil eksport dan tidak merusak lingkungan.

Oleh sebab itu, kami siap menerima tantangan dari pihak manapun, asalkan diskusi yang dilakukan ataupun perdebatan yang dilakukan dapat mecari solusi terbaik. Bukan sebaliknya, malah saling menyalahkan dan menyudutkan saja.

"Sebagai pihak perusahaan perikanan, kami juga menginginkan agar kawasan Danau Toba dapat meningkat kunjungan wisatanya. Bahkan, kami juga siap ditata dengan apik, lalu diciptakan bukan hanya perusahaan perikanan tetapi juga menjadi perusahaan perikanan dan pariwisata. Ada zona zona tertentu yang bisa dimamfaatkan, bukankah ini lebih bijak dan mensejahterakan secara keseleluruhan," urai dirinya.

Ditegaskan oleh dirinya juga, dengan penghentian aktifitas usaha mereka, dapat menimbulkan beberapa aspek kerugian tersendiri, buat mereka dan juga para karyawan yang ada.

"Kalau kami ditutup, apakah sudah pasti akan banyak wisatawan yang datang ke Danau Toba, belum tentu bukan. Lalu kalau kami ditata dan dijadikan salah satu objek wisata, apakah ini nantinya dapat mengundang wisatawan?" tantang dirinya.

Diketahui sebelumnya, Ketua Yayasan Pusuk Buhit yang bergerak sebagai pemerhati kawasan Danau Toba, Effendi Naibaho mendukung rancangan dari Menko Maritim, Rizal Ramli, guna melakukan gugatan terhadap pelaku perusak kawasan Danau Toba.

"Kita mendukung apa yang diungkap Menko Maritim, yang bermamfaat untuk kesejahteraan kawasan Danau Toba dan membantu peningkatan kunjungan wisatawan penikmat kawasan tersebut," sebut Effendi Naibaho kepada hetanews, Minggu (21/2/2016).

(baca ; http://www.hetanews.com/article/44928/yayasan-pusuk-buhit-dukung-rizal-ramli-gugat-perusak-danau-toba).

Penulis: soni. Editor: EBP.