(Ilustrasi)

Penulis : Fernando (USI)

Hetanews.com

Go private merupakan perubahan status suatu perusahaan, dari perusahaan yang terbuka menjadi perusahaan yang tertutup. Pada saat sekarang ini di Indonesia, banyak badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang berstatus terbuka, melakukan go private. Tentunya ada berbagai keuntungan yang diharapkan, yang telah mengakibatkan berbagai PT yang ada di Indonesia melakukan go private. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dimana dalam penelitian ini dibahas mengenai keuntungan go private bagi PT.

Saat sekarang ini, mengenai istilah ”pasar modal” menjadi pembicaraan yang hangat pada setiap negara. Demikian pula halnya dengan realitas di Indonesia. Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan.

Pasar modal merupakan indikator kemajuan perekonomian suatu negara, serta menunjang perkembangan ekonomi suatu negara yang bersangkutan. Didalamnya berputar roda perekonomian suatu negara, sumber dana bagi beroperasinya perusahaan yang merupakan tulang punggung ekonomi suatu negara.

Secara awam, masyarakat selalu mengkonotasikan pasar modal sebagai pasar saham, tetapi bila dilihat dari kenyataannya ternyata pasar modal sangatlah kompleks dengan berbagai produk dan sistem yang ada di dalamnya.

Pada awalnya produk yang diperdagangkan terbatas hanya pada efek bersifat ekuitas diikuti kemudian oleh efek bersifat utang, seiring dengan majunya perkembangan zaman dan didorong oleh kebutuhan alternatif investasi bermunculan berbagai produk atau instrumen pasar modal dengan karateristik dan resiko yang berbeda-beda, seperti reksa dana, waran, rigth, opsi, real estate investment trusts, exchangeble trust fund, dan kontrak-kontrak tertentu lainnya yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh setiap otoritas pasar modal.

Pasar modal memberikan alternatif investasi dengan beragam variasi produk yang selalu berkembang seolah tak berhenti, dengan menawarkan tingkat return yang bervariasi seiring dengan resiko yang juga harus menjadi konsekuensinya. Setiap pihak dapat memanfaatkan berbagai macam sumber pembiayaan, khususnya yang bersumber dari internal perusahaan, seperti dari arus kas yang timbul sebagai hasil operasi perusahaan atau tambahan modal dari pemegang saham, tetapi kedua hal tersebut kerap kali tidak mampu mencukupi kebutuhan dana yang nilainya sangat signifikan.

Alternatif yang memungkinkan adalah sumber dana dari luar perusahaan yang berupa utang dari pihak lain, sebagai contoh dari pasar uang atau bank. Alternatif sumber dana dengan persepsi awal murah didapat dari pasar modal, misalnya dengan menerbitkan saham atau efek lain yang bersifat ekuitas merupakan pilihan yang paling menarik bagi perusahaan. Banyak perusahaan yang memutuskan melakukan penawaran umum di pasar modal (go public) dengan menawarkan efek kepada masyarakat, dan selanjutnya menjadi perusahaan terbuka.

Kemitraan pasar modal dengan emiten atau perusahaan publik dapat ditegaskan sebagai bentuk hubungan simbiosis mutualisme, dimana selama status terbuka atau publik tersebut masih memberikan keuntungan atau keunggulan bagi perusahaan, maka perusahaan akan mempertahankan status tersebut.

Kondisi transaksi saham dari perusahaan yang memberikan value added bagi perusahaan mengakibatkan perusahaan tersebut tetap mempertahankan status listed-nya di bursa. Tetapi bila industri pasar modal tidak lagi memberikan manfaat, bahkan menjadi beban bagi perusahaan, maka secara naluri untuk bertahan hidup (survival), maka perusahaan akan memilih untuk keluar dari bursa atau pasar modal, atau dengan kata lain menjadi tertutup kembali (go private).

Pada akhir tahun 2008 yang lalu, dunia perekonomian dan perbankan dikejutkan dengan adanya krisis finansial yang melanda Amerika Serikat (AS), yang pada akhirnya juga melanda seluruh dunia. Berbagai perusahaan yang selama ini dianggap berdiri kokoh dan tahan terhadap guncangan perekonomian, ternyata harus menyerah kalah dalam menghadapi krisis tersebut.

Realitas goncangnya perekonomian AS benar-benar telah membawa pengaruh negatif yang tidak dapat disepelekan oleh negara-negara lain, termasuk juga negara-negara di Asia, dan Indonesia tentunya. Pada dasarnya realitas krisis yang terjadi pada perekonomian AS yang tercermin dengan hancurnya pasar modal AS, tidak membawa pengaruh hebat bagi Indonesia, walaupun sedikit banyak telah membawa pengaruh yang tidak baik terhadap dunia perekonomian dan pasar modal.

Dampak realitas krisis yang terjadi pada perekonomian AS yang tercermin dengan hancurnya pasar modal AS tersebut di Indonesia adalah dengan terdapatnya realitas berbagai PT yang melakukan go private, dimana salah satunya adalah PT. Sari Husada. Tentunya ada berbagai keuntungan yang diharapkan, sehingga suatu PT melakukan go private.

Tindakan go private merupakan aksi korporasi yang merupakan kebalikan dari tindakan go public. Pada tindakan go public suatu perusahaan menjual sahamnya kepada publik, sehingga menjadi perusahaan terbuka. Sebaliknya, pada tindakan go private perusahaan terbuka berubah statusnya menjadi perusahaan tertutup. Berdasarkan Black’s Law Dictionary, maka go private adalah “The process of changing a public corporation by terminating the corporation’s status with securities exchange commission as a publicly held corporation and by having its outstanding publicly held shares acquiered by a single shareholder or a small group”.

Young Moo Shin, menentukan bahwa yang dimaksud dengan go private adalah: “……Any transaction or series of transactions engaged by an issuer or its affiliate, which would if successful, permit the issuer to cease filing reports under the securities law and return to privately held status……”. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dipaparkan, dapat ditegaskan bahwa go private adalah perubahan status dari perusahaan yang terbuka menjadi perusahaan yang tertutup. “Go private artinya perusahaan yang sahamnya semula dimiliki oleh publik (perusahaan terbuka), berubah kembali menjadi perusahaan tertutup yang dimiliki oleh segelintir pemegang saham saja.”

Realitas tersebut menarik terjadi pada pasar modal pada saat sekarang ini. “Disatu sisi banyak perusahaan dari kelas kakap sampai kelas menengah, ramai-ramai masuk bursa, tetapi sebaliknya beberapa perusahaan kelas kakap justru berniat hengkang dari bursa, dengan alasan saham mereka tidak aktif diperdagangkan. Emiten kemudian melihat lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.”

Realitas go private juga menjadi mengkhawatirkan karena adanya perbedaan proses antara perusahaan yang melakukan go private dengan sukarela dan yang dipaksa atau (force delisting). Dalam beberapa hal perusahaan publik yang akan melakukan go private dapat mengalami kesulitan dalam penentuan harga saham yang harus dia beli kembali dari para investor publik.

Dapat ditegaskan bahwa PT melakukan go private karena mengharapkan adanya berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dari adanya perubahan status tersebut. Adapun keuntungan go private bagi PT, sebagai berikut:

a.      PT tidak perlu melakukan tindakan yang harus didasari oleh perubahan harga saham;

b.      PT dapat melakukan tindakan yang beresiko tinggi, dimana apabila tindakan tersebut dilakukan dalam status PT yang terbuka dapat dikenakan sanksi oleh BOPM;

c.      PT dapat kembali ke perhitungan akuntansi yang konservatif, sehingga pembayaran pajaknya lebih rendah, selain itu tidak perlu lagi menyiapkan berbagai surat yang diwajibkan oleh BOPM, dan kewajiban disclosure;

d.      PT menjadi tidak terlalu wajib untuk melakukan pembayaran dividen demi perkembangan permodalan jangka panjang, maupun investasi modal yang spekulatif;

e.      Terdapat penguasaan kendali atas PT bagi pihak yang khawatir akan kehilangan kekuasaannya apabila kepemilikan saham mayoritas berada pada publik.