Warga Parapat Penjual Bayi Diancam 4,5 Kalender

Empat terdakwa disidang di PN Simalungun didampingi pengacaranya. (foto/ayu)

Simalungun, hetanews.com - Tiga warga Parapat, Ayu Fatma br Nababan (20), Wenderi Sigiro, dan Demsi br Manurung alias Mak Riko masing-masing diancam 4,5 tahun penjara oleh tim jaksa, Nova Miranda dan Julita Nababan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Selasa (14/11/2017).  

Ketiganya dipersalahkan jaksa melanggar pasal I ke 68, yaitu, pasal 83 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Selain pidana penjara, masing-masing didenda Rp.60 juta subsider 3 bulan.

Sedangkan terdakwa Guntur Manihuruk, disidangkan dalam berkas terpisah di PN Simalungun diancam 1 tahun penjara karena terbukti sebagai pembeli bayi.  

Terungkap di persidangan, terdakwa Ayu Fatma Nababan, pekerja cafe hamil di luar nikah dan pacarnya tidak mau bertanggungjawab. Lalu melalui terdakwa Wenderi Sigiro yang sering datang minum, di tempatnya bekerja, meminta tolong agar menjual bayinya. Setelah seorang bayi laki-laki lahir, diasuh oleh saksi Eva br Lubis dan mendapat upah Rp.500 ribu.   

Terdakwa Wenderi Sigiro, berjanji akan membantu Ayu, mencari orang tua yang ingin mengasuh anaknya melalui terdakwa Demsi br Manurung.

Bayi laki-laki yang lahir pada Minggu, 26 Maret 2017 lalu, sekitar pukul 09.15 WIB, setelah diasuh beberapa hari oleh saksi Eva br Lubis, diserahkan kepada pasangan Guntur Manihuruk dan Elisabeth Silalahi yang tidak mempunyai anak dan tinggal di Sumatera Barat.   

Pasangan ini mengutus M br Siringoringo, warga Tebingtinggi menemui Demsi br Manurung untuk mengambil anak tersebut dengan biaya Rp.12 juta. Padahal, kesepakatan sang ibu yakni, terdakwa Ayu, menjual anaknya melalui Sigiro Rp.10 juta, namun Demsi mengambil keuntungan menjadi Rp.12 juta.

Setelah menerima uang dari orang suruhan Guntur Rp.12 juta, terdakwa Demsi, menyerahkan kepada terdakwa Sigiro Rp.10 juta, lalu mengambil Rp.2.500.000 dan sisanya Rp.7.500.000 diserahkan kepada terdakwa Ayu yang telah melahirkan bayinya.  

Uang tersebut dimanfaatkan terdakwa Ayu, membeli ponsel, kalung dan gelang emas yang dijadikan barang bukti, di persidangan serta sisa uang Rp.307.000.

Para terdakwa didampingi pengacara dame Pandiangan akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) ssecara tertulis atas tuntutan tersebut. Oleh karena itu, majelis hakim Roziyanti, Justiar Ronald dan Melinda Aritonang, menunda persidangan hingga Selasa mendatang.

Penulis: ay. Editor: gun.