Giro Bodong Rp 8 Miliar, Polisi : Sementara Belum Ada Korban Lain Joni KDS

Joni KDS saat diperiksa penyidik.

Siantar, hetanews.com - Poa Tju Tjin Joni Phan (52), salah seorang pengusaha perumahan ternama di Kota Siantar dijebloskan ke penjara setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Unit Tipidkor Satreskrim Polres Siantar.

Pria yang dikenal dengan nama Joni KDS ini diduga melakukan penipuan sebesar Rp 8,25 miliar terhadap korbannya Tan Pit Tjieng Piter Zein (64), warga Jalan Sangnaulauh, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar.

Kasat Reskrim Polres Siantar AKP Restuadi melalui penyidik Aiptu Darwin Siregar mengatakan, pihaknya menahan Joni KDS karena laporan dari korbannya Tan Pit Tjieng Piter Zein.

Sampai saat ini, lanjutnya, tidak ada korban lain yang mengadu ke Polres Siantar terhadap pelaku Joni KDS. "Sampai saat ini, tidak ada korban lain," tuturnya, Kamis (12/10/2017).

Sebelumnya diberitakan, pengusaha yang ditinggal di Jalan Atletik, Kelurahan Banjar, Kecamatan Siantar Barat ini awalnya meminjam uang dari korbannya itu.

"Dibilangnya mau meminjam uang untuk membangun perumahan. Tapi, saat uang itu hendak dikembalikan, ternyata bilyet giro yang diberikan oleh pelaku ke korbannya adalah cek bodong," tutur Aiptu Darwin, Rabu (11/10/2017).

Pelaku memang tak mengembalikan uang secara cash. Ia membayar dengan cek bodong, yang sama sekali tidak ada saldonya dan rekening telah ditutup. Merasa ditipu, korban kemudian membuat laporan ke Polres Siantar.

Awalnya korban sempat terkejut setelah dihubungi, bahwa bilyet giro yang diberikan oleh pelaku, tidak bisa dicairkan. Padahal, jumlah uang tersebut sangat besar, hingga Rp 8 miliar lebih.

Mengetahui hal itu, korban pun menemui pelaku. Ia menjelaskan, bahwa bilyet giro yang diberikan pelaku adalah bodong. Ia meminta pertanggung jawaban dari pelaku.

Namun, korban tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pelaku. Malah pelaku berdalih bahwa uang Rp 8 miliar lebih itu untuk kerja sama investasi bisnis perumahan kepada korban.

Korban pun tak terima dan memilih jalur hukum. "Dijerat dengan tindak pidana penipuan dan penggelapan pada Pasal 378 subsider 372 KUHPidana," tutup Aiptu Darwin.

 

Penulis: Ndo. Editor: Aan.